Mencoba Mengerti
Kasihnya sekarang tak seperti dulu lagi. Perhatiannya pun kini tak hanya tertuju kepadaku. Hari hari pun ia luangkan bersama teman-temannya. Terkadang ia datang dan menghampiriku hanya sekedar bertanya kabar. Dan semakin hari perubahan sikapnya membuatku kesal dan ingin sekali pergi darinya. Namun apa daya, hubungan ku yang memasuki 3 tahun tak bisa begitu saja membuatku yakin untuk meninggalkannya.
Aku menatap layar Iphone ku, terdapat fotoku bersamanya sedang tersenyum lepas. Tersirat kebahagiaan di wajahnya. Aku pun tak kuasa membendung air mata yang selalu menangis saat melihat foto dirinya.
“ Kamu berubah Io.. kamu gak pernah lagi menelponku ataupun bertemu denganku..” lirihku
Dengan langkah gontai aku pun beranjak dari kamarku dan menuju ke kampus. Meskipun lelah, aku tak ingin menghabiskan waktu dirumah hanya untuk memikirkan –RIO- yang entah berada dimana.
Setelah aku memarkirkan mobilku, aku menuju kelasku. Terlihat Agni sahabatku sudah duduk manis di kursinya dan akupun memilih kursi disampingnya.
“ Hy Fy..” sapa Agni
“ Hy Ni..”
“ Fy, pulang nanti ke mall yuk. Aku mau belanja nih (?)” ajak Agni
“ Tapi....”
“ Udah, ntar kalo ada yang mau kamu beli, biar aku deh yang bayar..”
“ Ya udahlah..”
Jam kuliah pun selesai, sesuai rencana Aku menemani Agni ke mall. Sesampainya disana aku berusaha untuk melupakan semua masalahku. Masalah yang mungkin berat bagiku. Setelah puas, aku pun menuju cafe hanya untuk melepas lelah. Saat aku melihat ke sudut cafe, aku melihat orang yang tak asing lagi bagiku sedang bersama seorang gadis dan terlihat mereka sedang tertawa lepas.
‘ Rio ‘ pekik ku dalam hati.
Agni pun datang dengan dua buah eskrim coklat dan memberikannya satu untukku. Agni yang saat itu melihatku diam, mengikuti arah pandanganku.
“ Rio lagi, Fy?” tanyanya
“ Aku percaya kog sama Rio.. mungkin itu Cuma temennya aja..” ucapku lirih.
Agni yang gemas melihat tingkahku yang Cuma diam, menghampiri Rio yang sedang bersama gadis lain.
BBRRAAKK.. Dengan emosi, Agni menggebrak meja tersebut yang membuat hampir semua pengunjung cafe melihat ke arah sudut.
“ Loe tuh gak tau terima kasih banget yah.. loe enak-enakan selingkuhin Ify.. apa loe gak nyadar kalo Ify itu sakit hati liat loe sama cewe ini..” bentak Agni
“ Maksud loe apaan? Gue sama dia Cuma temen, seenaknya aja loe nuduh gue selingkuh.. apa buktinya kalo loe selingkuh?” balas Rio yang tak kalah emosian.
Aku pun bergegeas menghampiri mereka. Aku mencoba menenangkan Agni yang sudah tersulut emosi.
“ Ni, udah.. yuk kita pulang aja..” ajakku tanpa perduli terhadap Rio. Agni pun meninggalkan Cafe.
“ Ify..” ucap Rio kaget saat melihatku.
“ Io, apapun yang udah kamu lakuin aku akan selalu percaya sama kamu..” ucapku sambil menyusul Agni yang terlebih dulu pergi.
“ Fy.. Ify..” panggil Rio.
Aku tak menghiraukan panggilannya dan terus melangkah keluar dari cafe.
“ Fy, kok kamu bisa sih maafin dia gitu aja, kenapa kamu tadi gak marah ngeliat cowo playboy itu? Kenapa juga gak kamu putusin aja..” ucap Agni yang masih emosi.
“ Aku udah kenal Rio 3 tahun lebih, aku tau sifatnya bukan gitu... Aku yakin suatu saat nanti dia akan jadi Rio yang dulu..” ucapku tersenyum.
“ Terserah kamu Fy..”
****
Saat malam, mataku tak mampu untuk terpejam. Fikiranku kembali saat keadian tadi siang. Bukan hanya sekali itu aku melihat Rio jalan dengan gadis lain. Mungkin udah hampir 3 atau 4 kali aku melihatnya berjalan dengan gadis yang berbeda. Dan saat aku bertanya, Rio hanya menjawab ‘teman gak lebih’. Walaupun perih aku terus mencoba tetap bertahan menjalani hubunganku ini.
Sikap Rio berubah saat kedua orang tuanya pisah, dan bokapnya memilih untuk meninggalkannya bersama nyokapnya. Dan disaat itu pula Rio berubah, sikapnya yang begitu ramah tiba-tiba menjadi cuek dan gak peduli. Senyumnya yang biasa ia berikan kepadaku kini tak pernah lagi aku lihat.
Entah apa alasan Rio merubah sikapnya tersebut. 2 bulan terakhir, hubunganku dengan Rio semakin merenggang. Tak ada lagi alunan indah yang Rio nyanyikan untukku. Tak ada lagi kecupan hangat di keningku. Yang hanya ada kini adalah sebuah kepedihan dan sakit hati. Aku terlalu muna bila aku tak cemburu melihat Rio bersama gadis lain. Jujur! Aku memang sangat cemburu melihat itu, ingin rasanya aku menampar gadis itu dan membuatnya menjauh dari Rio, namun apa daya aku tak mampu melakukannya.
Setelah hampir seminggu kejadian tersebut aku berulang kali untuk kuat menjalani hari hari tanpa Rio. Hingga suatu hari, di sebuah pesta yang diselenggarakan kampusku, aku melihat dirinya sedang berpelukan dengan gadis lain, aku melihatnya mencium kening gadis itu.
Semua terasa salah
Semua terasa hina
Ketika rasa itu tak bisa lepas
Dari diri yang tlah terhempas
Aliran bening pun terjatuh dari pelupuk mataku. Tak kuasa aku untuk menangis. Aku ingat saat Rio bilang ‘ Kecupan ku hanya akan aku berikan kepadamu Ify..’. kata-kata itu masih terus terngiang di telingaku. Dan kini aku melihat Rio mengecup kening gadis lain.
Cinta jadi suatu dari artinya
Memberi walau harus tak di beri
Menerima meski tak diterima
Lihatlah aku disini
Haruskah ini terjadi
Aku berlari dari tempat itu menjauh dan terus menjauh, berharap waktu kini berhenti dan tak kan pernah berputar kembali. Aku hanya duduk di samping taman kampus.
Lakukanlah sampai engkau puas
Cari saja apa yang hatimu mau
Sampai kapanpun aku
slalu mencoba untuk Mengerti
Aku terus berusaha meyakinkan diri ini, mungkin gadis lain akan langsung meninggalkannya. Namun aku tak bisa melakukan itu. Semua kenangan bersama Rio, dan kasih yang Rio berikan terlalu manis untuk begitu saja aku hempaskan.
Teruskanlah hingga engkau jera
Dustai dan khianati lukai hatiku
Meski lautan air mataku mengering
Kucoba tetap mengerti
Di sela tangisanku, aku mendengar sayup sayup alunan suara yang begitu lembut yang pernah aku dengar sebelumnya. Suara yang tak asing bagiku. Yah aku yakin itu suara Rio yang bernyanyi. Aku pun bergegas melihatnya dan benar, memang Rio yang sedang menyanyi diatas panggung. Dengan suara khasnya yang begitu lembut, Rio menyanyikan lagu tercipta untukku bersama gitar akustiknya. Aku berharap lagu itu ia nyanyikan untukku.
Lihatlah aku disini
Haruskah ini terjadi
Namun sayang, Rio bukan tersenyum kearahku, melainkan ke gadis yang ku ketahui bernama Acha. Lagi-lagi tangisku pecah, seketika itu, Agni yang melihatku langsung mengajakku untuk keluar dari aula itu.
Lakukanlah sampai engkau puas
Cari saja apa yang hatimu mau
Sampai kapanpun aku
slalu mencoba untuk Mengerti
“ Kamu kenapa sih masih nekat datang kesini, aku kan udah bilang gak usah kesini..” ucap Agni yang berniat baik padaku.
“ Tapi aku kan...” Aku tak mampu melanjutkan lagi dan hanya bisa menangis.
Teruskanlah hingga engkau jera
Dustai dan khianati lukai hatiku
Meski lautan air mataku mengering
Kucoba tetap mengerti
Agni memelukku, membiarkan aku menumpahkan tangisku di pelukan seorang sahabat. Dan semenjak malam itu, aku berniat untuk ikut kedua orang tuaku pindah ke Bandung. Aku ingin melupakan semuanya. Mungkin cara inilah yang bisa membuatku lupa dengan Rio.
“ Ag, maafin aku yah kalo aku selama ini nyusahin kamu..”
“ Gak kog Fy, kamu gak pernah nyusahin siapapun.. aku ikhlas dan senang udah bersahabat dengan kamu.. aku harap kamu gak akan lupa denganku..”
“ Iya..” ucapku tersenyum tipis dan memeluk sahabatku itu sebelum aku take off ke bandung.
“ Apa kamu udah kasih tau Rio?” aku menggelang pelan.
“ Ya udah, aku pamit yah.. bye..”
Dengan langkah pelan aku meninggalkan Agni. Entah hanya khayalan atau rasa kangen ku, aku mendengar Rio memanggilku. Aku mencoba mendengarkan suara itu dan meyakini memang itu nyata. Lalu sebuah tangan menahan langkahku. Aku pun melihat ke orang itu dan betapa kagetnya aku melihat Rio yang berdiri di depanku.
“ Mau kemana Fy?” tanyanya lembut tatapannya kembali ke Rio yang dulu. Begitu teduh memandangku.
“ Ke Bandung, aku akan tinggal disana..” jawabku
“ Aku minta maaf Fy, selama ini udah buat kamu sakit hati dan mungkin benci sama aku.. aku Cuma...”
“ Ssst.... Io, aku gak benci sama kamu, aku gak marah sama kamu, aku Cuma butuh ketenangan, maka dari itu aku ke Bandung..”
“ tapi Fy, aku mohon jangan tinggalin aku, aku udah sadar dengan semua kesalahanku.. aku mohon jangan tinggalin aku, aku sayang sama kamu..”
Begitu eratnya tangan Rio menggenggam tanganku. Begitu hangatnya tatapan itu padaku. Ingin rasanya aku memeluknya dan menjawab ‘ Iya aku gak akan ninggalin kamu ‘, tapi aku sudah bertekad untuk sejenak melupakan sakit hati ini.
“ Io, aku gak akan selamanya pergi dari kamu.. aku juga sayang sama kamu, tapi saat ini aku ingin sendiri, aku butuh waktu untuk nyembuhin luka ini... dan bila tiba waktunya, aku akan kembali padamu dan melihat Rioku yang dulu.. Rio yang selalu sayang denganku.. aku berharap saat itu tiba dan kebahagiaan akan datang di kehidupan kita.. “
Rio terlihat merasa bersalah terhadapku. Dengan cepat aku mencium pipi kirinya dan tersenyum.
“ Aku cinta kamu Io, aku ingin lihat kamu yang dulu..” bisikku.
Aku pun perlahan pergi. Rio masih terus memandangku hingga aku tak terlihat lagi. Aku yakin suatu hari nanti, ketika aku yakin akan kembali, aku yakin Rio tlah menjadi Rioku yang dulu. Dan untuk saat ini aku memilih untuk menghilangkan perasaan sakit ini hingga tiba waktunya nanti.
Meski lautan air mataku mengering
Kucoba Tetap mengerti..
(Backsound Tetap Mengerti –Kerispatih)
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar