Angel of my life
Berada di sebuah rumah besar hanya sendiri, tiada satupun yang menemani. Dinginnya malam masih terus menyelimutiku. Dan aku hanya bisa diam. Membiarkan dingin itu menyentuh tubuhku. Dan aku hanya mematung sendiri, melihat dari jendela kamarku. Betapa sepinya malam itu. Tak terasa tangis pun pecah. Pikiranku kembali ke 3 hari yang lalu, dimana sebuah kejadian telah menimpa kedua orang tuaku. Merenggut mereka dari sisiku.
Langkahku pun perlahan meninggalkan kamar yang hampir 2 hari aku tempati tanpa melakukan apapun. Aku menuruni satu per satu tangga untuk menuju sebuah ruang keluarga yang biasa aku tempati bersama keluargaku untuk sekedar bercanda dan bergurau. Aku pun duduk di salah satu sofa di ruang itu, memeluk sebuah bantal dan mengingat masa masa dimana aku merasakan kehangatan dari sebuah keluarga.
Kupejamkan maaku dan mencoba mengingat kembali memori yang dulu pernah aku lakukan bersama keluargaku. Dan tanpa sadar pula aku menitikan air mata, tak mampu kutahan lagi kesedihan itu.
“Mama..Papa..” lirihku.
Aku menyesal mengapa saat itu tak mampu untuk menahan mereka untuk tidak pergi.
*Flashback*
“Ify, mama sama papa pergi dulu yah..” pamit Mamaku. Aku hanya diam.
“Kami cuma sebentar kog sayang...” sambung Papaku yang mengerti maksud diamku.
“Tapi ma, pa, Ify gak mau mama sama papa pergi...” tahanku
“Sayang, kamu tenang aja yah, dua hari lagi kami akan pulang kog... jaga diri yah..”
Mama dan Papa ku pun memasuki mobil dan menghilang dibelokkan rumah. Sore harinya, saa aku menonton televisi, sebuah berita mengenai pesawat tujuan singapura jatuh. Dan kedua orang tuaku termasuk korban didalamnya.
*Flashback end*
“Kenapa kalian belum pulang ma, pa..kalian janji pergi cuma dua hari, tapi ini sudah tiga hari..” ujarku lirih sambil mentap foto keluargaku.
Akupun kembali menangis, entah sudah berapa banyak air mata yang telah ku keluarkan. Aku kini benar benar kesepian. Lalu sebuah bel mengusik aku yang sedang menangis. Aku pun perlahan berjalan untuk melihat siapa yang berada dibalik pintu rumahku. Seorang pemuda memakai topi yang sedang tersenyum manis dihadapanku dan ditangannya terdapat seikat bunga mawar merah.
“Kiriman bunga..” ucapnya pelan.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Maaf mbak, saya kurang tau, permisi..” pamitnya.
Aku pun memegang bunga itu. Tak ada nama pengirimnya, yang tertinggal dibunga itu hanya sebuah kertas yang bertuliskan :
Untuk Alyssa,
Ku kirimkan bunga ini untuk menemani hari-harimu yang sepi.
Hanya itu yang tertera dikertas. Aku bingung dengan orang yang mengirimkanku bunga. Selama ini aku tak pernah memiliki teman pria yang begitu dekat dan akrab. Ku letakkan bunga itu di salah satu vas, ku amati bunga itu dan aku pun tersenyum setelahnya.
****
Keesokan harinya, semangatku untuk kembali ceria perlahan menghapus dukaku. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk meneruskan kehidupanku. Dan seperti mahasiswi yang lain, aku menuju kampusku yang hampir 4 hari tak aku datangi.
Dengan santai aku menuju kelasku, kulihat belum banyak yang datang, aku pun memilih untuk duduk dan mendengarkan lagu dari Ipod ku. Sekitar 15 menit aku hanya diam, ada dua orang pemuda yang cukup aku kenal menghampiriku.
“Hy Fy..” sapa salah satu dari mereka.
“Hy Yel..” balasku.
“Loe kemana aja sih Fy, 4 hari gak keliatan?” tanya Debo temanku yang satunya.
“Cuma menyendiri aja dirumah, kalian kan tau kalo..” ucapku menggantung
“Kita turut berduka cita yah Fy..” ucap Gabriel, pemuda yang tadi menyapaku.
“Oh iya Fy, ada seseorang yang nitip ini sama kita..” Debo membuka tasnya dan memberikanku setangkai mawar merah dan sebuah surat.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Kita juga gak tau Fy, tadi Shilla yang ngasih ke kita..” jawab Gabriel.
“Oh..” aku membuka lipatan ketas itu dan membaca isinya.
Hy Alyssa,
Semangat yah dan jangan lupa selalu tersenyum..
Tulisan itu, sama persis dengan tulisan yang kemarin memberiku seikat bunga. Aku semakin penasaran dengan orang itu.
“Siapa sih nih orang..” gerutuku.
“Emang kenapa fy?” tanya Gabriel.
“Gak kog..” jawabku pelan.
“Dari secret admire loe kali..” sambung Debo.
“Mungkin aja..” jawabku asal.
****
Malamnya, aku mendapat sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal.
From : 0819333xxxxx
Andai aku memiliki sayap,
Akan aku berikan bintang untuk menemani tidur malammu.
Aku mencoba menghubungi nomor tersebut, namun tak pernah tersambung. Orang itu, membuatku semakin penasaran, dan aku pun memilih untuk mengistirahatkan tubuhku, berharap besok sebuah kebahagiaan hadir dihidupku.
****
Di pagi itu, aku bangun dengan sebuah semangat yang baru, terlihat sinar mentari telah menyinari pagi indah ini. Aku memilih untuk sekedar berjalan disekitar rumah, mencari udara segar pagi itu. Kulangkahkan kakiku ke sebuah taman yang cukup sepi, hanya beberapa orang yang terlihat beraktivitas disana.
Kuedarkan pandanganku ke sebuah taman bunga yang dihinggapi oleh kupu-kupu yang cantik. Ku petik setangkai bunga itu dan mencium harum bunganya. Sayupsayup terdengar suara seseorang sedang bernyanyi dengan diiringi oleh petikan gitar akustik, cukup merdu mendengarnya. Aku mencoba mencari asal suara itu, dan menemukan seorang pemuda yang menghadap kesebuah danau bernyanyi dan bermain gitar. Aku masih terus mendengarkannya, suaranya yang lembut membuat perasaanku damai.
Tanpa aku sadari, ia menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Hey..” sapanya. Aku sedikit kikuk melihat senyumnya dan mendekati dia.
“Suara loe bagus..” pujiku.
“Makasih... Gue Rio..”
“Oh, gue Ify..”
“Loe suka bunga mawar yah?” tanya Rio kepadaku.
“Suka banget, kenapa?”
“Gak kog, mau denger lagu lagi?” tawarnya padaku. Aku mengangguk pelan. Dan Rio pun memetik gitarnya kembali dan bersenandung sebuah lagu.
Kuhirup udara dan rasakan hanganya mentari
Oh indahnya hari ini menjalani hidup yang pasti
Janganlah menangis lepaskan semua beban dihatimu
Ayo ikutlah denganku kita bernyanyi na na na na na
Hidup ini hidup yang penuh bahagia
Tetap semangat dan jangan putus asa
Hidup ini hidup yang sangat berarti
Terus berjuang tuk menggapai impian
Prok..prok. Aku memberikan tepuk tangan kepada Rio.
“Loe keren banget Io..” ucapku. Ia hanya tersenyum.
Entah mengapa aku begitu nyaman saat mengobrol bersamanya. Tak pernah kurasakan betapa akrabnya aku dan dia.
****
Semakin hari aku dan Rio semakin akrab. Kurasakan lagi keceriaan yang dulu hilang dari hidupku. Namun yang sampai kini aku bingung, orang yang memberiku bunga mawar tetap setia mengirimkannya setiap pagi. Aku tak ingin memikirkan itu, setiap bunga yang dikirimkannya kerumahku aku selalu menyimpannya.
“Fy, banyak banget yah bunga mawar dirumah loe..” ucap Rio saat berada dirumahku.
“Iya nih Io, setiap pagi selalu aja ada orang yang ngirim ke gue, ada kata-kata puisi gitu juga..” jawabku sambil membawakan sebuah minuman untuk Rio.
“Secret admire loe tuh..”
“Gue juga gak tau, tapi gue seneng banget bisa dapet bunga mawar tiap pagi, jadi semangat..”
“Seandainya secret admire loe itu gue gimana?”
“Hah? Maksud loe Io?”
“Gak kog Fy, lupain aja.. gue permisi pulang yah..”
Sikap Rio membuatku bingung. Ucapannya tadi membuatku penasaran. Aku berpikir apa Rio yang setiap pagi mengirimkan bunga mawar untukku, Ah mana mungkin!!
****
Aku telah siap untuk berangkat kuliah, saat ku buka pintu rumahku, tak kudapati lagi bunga mawar yang biasanya tergeletak di depan pintuku.
“Kog gak ada..” ucapku bingung.
Aku pun menuju mobilku, sesampainya di kampus Gabriel dan Debo menghampiriku.
“Fy, nih buat loe..” ucap mereka memberikan sebuah kotak.
“Buat gue? Dari siapa?”
“Buka aja, bye..” mereka berdua pun meninggalkanku.
Kubuka kotak itu dan mendapati setangkai bunga mawar dan sebuah surat.
Kalo mau tau siapa aku,
Datang ke cafe Violet sekarang..
Aku tunggu Alyssa...
Kembali kumasukki mobilku dan segera menuju cafe violet. Sesampainya disana cafe itu terlihat sepi hanya ada beberapa pelayan cafe yang sedang sibuk membereskan meja dan kursi.
“Mbak Alyssa?” tanya seorang pelayan.
“Iya, kenapa?”
“Mbak ditunggu disana oleh seseorang..” Mbak pelayan itu menunjuk sebuah meja yang terletak di luar cafe. Aku segera melangkahkan kaki kesana dan tak menemui siapapun.
“Akh, siapa sih yang jahil ngerjain gue..” dumelku
Menatap indahnya senyuman
Diwajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Aku menoleh ke asal suara tersebut, terlihat Rio sedang duduk di salah satu kursi dan bernyanyi dengan gitarnya.
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
Kepada dirimu..
Rio berdiri dan berjalan kearahku. Aku hanya tersipu mendengar suaranya.
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Disetiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Kuingin kau tau ku slalu milikmu
Yang mencintaimu..
“S’panjang hidupku..”
“Hy Fy..” sapanya.
“Loe kog disini Io?”
“Bukannya loe mau nemuin orang yang ngasih loe bunga Fy.?”
“Iya, trus kenapa?”
“Dia adalah gue..”
“Elo?”
“Fy, semenjak mendengar berita meninggalnya kedua orang tua loe, gue dan nyokap gue bertekad untuk jagain loe, mungkin loe baru kenal gue sekarang, tapi yang pasti gue udah kagum dengan loe sejak orang tua loe mengenalkan loe melalui sebuah video loe lagi main piano..”
“Jadi...”
“Sebenarnya tujuan orang tua loe pergi ke singapur adalah untuk nemui gue dan minta gue untuk ketemuan dengan loe, namun mungkin Tuhan berkehendak lain, dan sekarang gue disini ingin menyampaikan amanat kedua orang tua loe untuk ketemu loe dan jagain loe Fy..”
Aku menangis mendengar cerita Rio.
“Fy, loe mau gak jadi teman hidup gue, menjadi orang yang pertama gue lihat saat membuka mata dan menutup mata, will you marry me?” ungkap Rio sambil menggenggam erat tanganku.
Aku masih kaget mendengar pernyataan Rio. Sebuah kata-kata indah keluar dari bibirnya. Senyumannya yang selalu membuatku tenang pun menguatkan hatiku untuk menerimanya.
“Rio, aku mau..” jawabku.
Rio memelukku erat saat mendengar jawaban bahagia dariku. Mungkin kedua orang tuaku pergi selamanya, namun mereka telah mengirimkanku teman yang akan menemaniku menghabiskan hari-hari selanjutnya.
“I love u Ify..”
“Love u too Rio..”
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar