Part 8
“ Manda adalah anak saya.dan kamu serta Rio adalah cucu nenek..” ungkap Nek Inten
“ Hah? Yang bener? Trus kenapa nenek bisa tinggal disini? Setau Via, nenek Via udah meninggal..” kata Sivia masih tak percaya.
“ Setelah kejadian perang antara kerajaan Elzora dan penyihir magis itu, nenek memang sengaja menyuruh ibu dan ayahmu untuk pergi membawa kamu dan Rio untuk tidak ikut perang... dan yang mereka tau nenek meninggal tapi sebenarnya enggak... dan sekarang kerajaan Elzora itu hilang bagai di telan bumi..” cerita nenek Inten.
Ify, Sivia dan Shilla masih cengo dengerin ceritanya.
“ Kalian tunggu sebentar..” Nenek Inten masuk ke dalam gubuk untuk mengambil sesuatu.
“ Kak Rio..” panggil Sivia. Rio menoleh
“ Kesini bentar..” ajak Sivia. Rio pun memasuki gubuk.
“ Ada apa?” tanya rio
“ Kamu harus dengerin sesuatu.. duduk Io.” Ajak Ify. Tak lama Nek Inten keluar dengan sebuah kotak cukup besar.
“ Nih..kamu buka..” kata Nek Inten memberikan kotak kepada Sivia.
” Ada apa sih?” tanya Rio bingung
“ Kak..nek Inten ini nenek kita, orang tua bunda..” jelas Sivia.
“ Yang bener?” tanya Rio tak percaya.
Sivia membuka perlahan kotak itu dan melihat isinya. Ada sebuah syal kecil bertuliskan nama Manda Azizah dan Zeth Haling. Serta sebuah bulu dari burung elang yang memiliki inisial ‘R’.
“ Ini punya bunda dan ayah nek?” tanya Rio. Nek inten mengangguk
“ Trus bulu burung elang ini punya siapa?” tanya Rio
“ Itu punya kamu, Io.. ayahmu sendiri yang mengukir Inisial itu.” Jelas Nek Inten
“ Io, Nek Inten ini bener nenek kamu..” ucap Ify.
Sivia pun langsung memeluk neneknya yang mungkin satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Rio pun ikut memeluk neneknya.
“ Maafin nenek yah udah biarin kalian tinggal berdua..” ucap neneknya
“ Iya...nek..” ucap Sivia
Gabriel dan Alvin pun masuk ke gubuk.
“ Io, perahunya udah tuh...” ucap Gabriel.
“ Ya udah kita berangkat sekarang..” ajak Rio.
“ Nek, Via sama kak Rio pamit yah..” ucap Sivia
“ Rio janji nek, kalo semua udah membaik, Rio akan jemput nenek untuk tinggal sama kita.” Sambung Rio.
“ Iya.. nih Io, bawa tombak ini di jalan nanti kamu akan butuhinnya.” Kata Nek Inten memberikan sebuah tombak yang terbuat dari perak.
“ Makasih Nek.. yuk kita pergi.” Ajak Rio menuju perahu.
“ Trus perahunya udah yakin cukup untuk berenam?” tanya Shilla
“ Iya..dijamin deh...” jawab Alvin.
Sivia, Shilla Alvin dan Gabriel memasuki perahu satu persatu.
“ Nak Ify..” panggil Nek Inten. Ify menoleh sebentar
“ Iya nek..” jawab Ify
“ Ini untuk kamu, jaga baik-baik yah seperti kamu menjaga perasaan kamu untuk Rio.” Kata Nek Inten memberikan sebuah kalung berbandul permata.
“ Kog kasih ke Ify nek?”
“ Kelak kamu akan jadi pendamping Rio.. dan Cuma kamu yang bisa membantu Rio nanti.” Pesan Nek Inten. Ify pun menerimanya.
“ Yuk Fy..” ajak rio menghampiri Ify yang sedang mengobrol dengan Nek Inten
“ Rio.. kamu jaga baik-baik yah Ify..” pesan Nek Inten.
“ Iya Nek..” ucap Rio. Ify Cuma tertunduk malu sambil berjalan menuju perahu.
Alvin, Gabriel, dan Rio pun mulai menggayung untuk menjalankan perahu.
“ Ada buayanya gak yah nih sungai?” tanya Shilla ngeri.
“ Setiap sungai besar biasanya ada buaya kak.. apalagi sungai elzora ini terkenal dengan buayanya yang ganas..” ungkap Sivia.
“ Waduh..jangan sampe kita kecebur deh..gue masih mau hidup..” sambung Alvin. Semua tertawa kecil mendengar kata-kata Alvin.
Hampir 1 jam mereka berada di sungai dan akhirnya daratan pun terlihat, mereka menggayung lebih cepat. Namun ada sesuatu yang menabrak perahu mereka.
DDUUGGG..
“ AAAAAAA..” Teraik Shilla, Sivia dan Ify kaget
“ Wah, Io ada apa nih?” tanya Gabriel
“ Gue takut kak..” kata Alvin
DDUUGGG..
“ Jangan berhenti gayung..kita terusin aja...” ucap Rio memimpin semuanya.
“ Tapi..bunyi apa itu?” tanya Ify.
“ Buaya lagi mengelilingi perahu kita..sebaiknya kita jangan panik.. Kak iyel, Alvin terusin menggayungnya..” koor Rio lagi.
Alvin dan Gabriel pun mempercepat gayungan mereka. Dan buaya itupun tak henti-hentinya menabrakkan badannya ke perahu.
“ Kak..aku takut..” ucap Sivia.
“ Bentar lagi kita sampai,,” ucap Rio menenangkan adiknya.
“ KYAAA..Perahunya bocor...” teriak Shilla menggegerkan penghuni perahu
“ Io..perahunya bocor..” sambung Gabriel.
Jarak mereka dengan daratan hanya tinggal 2 meter dan sungai pun sudah tak terlalu dalam.
“ Sebaiknya kalian turun dari kapal dan berlari menuju daratan..” perintah Rio.
“ Tapi buayanya Io?” tanya Alvin.
“ Mereka gak akan mengejar kalian..cepetan keluar dari perahu SEKARANG...”
“ Tapi kamu, Io?” tanya Ify
“ Gak usah khawatirin aku, Fy.. aku mau menghalangi buaya itu mengejar kalian.” Ucap Rio
Shilla, Alvin, Gabriel, Sivia dan Ify pun mulai berlari menuju daratan diikuti dengan Rio dibelakang mereka. Salah satu buaya mendekati Sivia yang sedang berlari, Rio mengambil langkah cepat dan menggunakan tombaknya untuk membunuh buaya itu.
JJLLEPP.. Sekejap buaya itu mati, dan Rio terus berlari menuju daratan. Dan mereka berenam pun selamat.
“ Huhh...baru aja dimulai udah gini, apalagi nanti..” keluh Shilla
“ Bener, gue takut banget tadi..” sambung Alvin.
“ Penakut loe.” Ejek Ify.
“ Iya, masa si mantan ketua osis takut sih..” sambung Gabriel
“ Kalo masalah yang udah menyangkut nyawa, gue nyerah deh..gue ngaku kalah..” ucap Alvin jujur.
“ Hahahaha..akhirnya loe ngaku juga Vin..” kata ify tertawa.
“ Ye..puas loe semua....” Ucap Alvin masih mengatur nafasnya.
“ Kak, kamu gak papa kan?” tanya Sivia mendekati Rio yang terduduk tepat disamping tombaknya yang berlumuran darah buaya.
“ Iya, Vi.. kakak gak papa kog.” Ucap Rio tersenyum.
“ Wah.. ada pohon kelapa tuh..” ucap Gabriel
“ Trus kenapa?” tanya Alvin.
“ Ambil yuk, haus nih gue..” ajak Gabriel
“ Io, kita boleh kan ngambil buah kelapa itu?” tanya Alvin. Rio mengangguk. Karena mereka dilarang mengambil sembarang buah di hutan itu.
“ Emang mau ngambil pake apaan?” tanya Shilla
“ Tuh Alvin ada,, suruh aja di yang manjat.” Ucap gabriel seenaknya.
“ Ye..apaan loe kak.. kan elo yang mau, kenapa gue yang disuruh manjat.. gak..gak..” tolak Alvin
“ Jadi loe gak mau minum tuh kelapa?” tanya Gabriel.
“ Mau sih.. tapi jangan gue donk kak, gue takut ketinggian nih..” ucap Alvin memelas.
“ Ya udah, kalo gue yang manjat berarti loe gak boleh ikutan minum, gimana?” ancam Gabriel
“ Io, loe bisa manjat gak?” tanya Alvin
“ Enggak.” Jawab Rio bohong. Gabriel telah memberi aba-aba pada Rio supaya berkata bohong. Dan Alvin yang memanjat.
“ Huuuhhh.. ya udah deh, gue nyoba manjat yah..” Akhirnya Alvin pun mengalah. Ify, Shilla, Sivia dan Rio tertawa kecil melihat Alvin yang mencoba memanjat.
“ Vin..hati-hati... kalo loe jatuh, gak ada lagi pangeran kodok gue..” ucap Shilla nyemangatin.
Alvin telah berada diatas pohon lalu ia melihat ke bawah.
“ Ah gila... tinggi amat sih,,” gumam Alvin ngeri.
“ Buruan Vin, jatuhin kelapanya” ucap Ify.
Alvin pun menjatuhkan 3 buah kelapa lalu bergegas turun.
HHAAPP..
“ Untung deh loe selamet..” ucap gabriel tersenyum kecil dan menepuk pundak Alvin sambil membawa buah kelapa itu untuk dibuka.
“ Pokoknya gue gak mau berhubungan lagi dengan ketinggian..” ucap Alvin
“ Udah, gak usah ribut lagi deh, mending sekarang kita minum nih air kelapanya.” Ucap Sivia.
“ Vin, sebenernya aku bisa kog manjat, tapi kak Iyel udah nyuruh aku buat bohong supaya kamu yang manjat..” kata Rio yang duduk disamping Alvin yang meminum air kelapanya.
“ Dasar kak Iyel..tunggu pembalasan gue..hehehe..” Alvin tersenyum kecil.
Mereka pun beristirahat sebentar dan ketika hampir sore, mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar