Part 10
2 Orang bertubuh kecil dibawah Alvin dan Gabriel atau lebih tepatnya kurcaci sedang membawa sebuah kayu yang bertujuan untuk menghabisi mereka.
“ Loe gak papa Vin?” tanya Shilla yang melihat Alvin terkapar di tanah.
“ Kaki gue sakit..” Alvin meringis kesakitan.
“ Vi, mereka siapa?” tanya Gabriel
“ Anak buah penyihir magis kak..” jawab Sivia
“ Trus kita harus ngapain? Mereka berbahaya gak?”
“ Gak kak.. kita coba lawan aja...” ucap Sivia yang juga memegang tombak Rio yang dititipkannya pada Sivia.
Gabriel dan Sivia pun menghadapi 2 kurcaci itu. Dengan mudahnya Gabriel yang jauh lebih tinggi memegang kepala kurcaci itu yang akan memukul Gabriel namun hasilnya kurcaci itu tak dapat memukul Gabriel. Dengan cepat Gabriel memberikan bogem mentahnya ke wajah dan perut kurcaci itu.
“ Dasar bocah ingusan, mau melawan gue yah loe..” ejek Gabriel, lalu ia membantu Sivia.
Kurcaci yang sudah babak belur dihajar Gabriel berlari menuju jembatan dan memutuskan tali jembatan itu, membuat Rio dan Ify yang masih berjalan menuju seberang sedikit tergoyah.
“ Kak Iyel..Via.. jembatannya..” teriak Shilla. Gabriel yang menoleh akhirnya terkena pukulan kurcaci itu.
“ Aduuhh..” rintih Gabriel, namun Gabriel menuju jembatan itu.
Kedua kurcaci itu langsung pergi.
“ Fy, gawat, tali jembatannya mau putus..lebih baik kamu cepetan jalan..” suruh Rio.
“ Via, bantu gue megang tali ini..” ucap Gabriel yang memegang tali yang hampir putus
“ Kak Ify, kak Rio, buruan.. talinya mau putus..” teriak Sivia.
Rio dan Ify mempercepat langkahnya dan akhirnya sampai diseberang. Dan jembatan itu pun putus.
“ Vin, kaki kamu kenapa?” tanya Rio
“ Tadi ada anak buah penyihir magis kak menyerang kita.” ucap Sivia.
“ Gue gak papa kog, Io.” Ucap Alvin yang masih menahan kakinya yang sakit.
“ Gak papa gimana, kaki loe memar gitu..emang bisa jalan?” tanya Shilla
“ Hehhe..kalo dibantu jalan sih bisa..” Alvin Cuma nyengir.
“ Ya udah, kita cari tempat yang aman buat istirahat.” Ajak Rio berjalan menuju sebuah tebing yang cukup tinggi tempatnya.
Mereka pun istirahat di sebuah tebing yang memiliki keindahan yang amat luar biasa karena dari tebing itu mereka dapat melihat keseluruhan hutan sekitar, serta hamparan laut yang membentang di balik hutan.
“ Vin, kaki loe masih sakit?” tanya Gabriel.
“ Lumayanlah kak, mendingan dari yang tadi.” Jawab Alvin
“ Kak, nih..” ucap Sivia memberikan sebuah minuman
“ Apaan nih?” tanya Alvin
“ Itu obat buat nyembuhin luka memar di kaki kakak.” JelaS Sivia
“ Kog aneh sih baunya?” Protes Alvin
“ Yah namanya juga obat mana ada yang enak..” ucap gabriel menoyor kepala Alvin
“ Ah kak Iyel kerjaan loe Cuma nyiksa gue mulu..” cerca Alvin
“ Udah buruan minum, biar kaki loe cepet sembuh.” Suruh Gabriel
“ Iya..iya..”
Alvin pun meminum sejenis obat yang berbentuk jamu yang dibuat oleh Sivia. Perlahan tapi pasti Alvin menghabiskannya.
“ Huueek..pahit banget sih..” ucap Alvin
“ Banyak protes loe..” ucap Gabriel
Shilla Cuma manyun liat kejadian itu. Aslinya cemburu sama Sivia.
****
Semua warga desa sudah mengungsi ke tempat yang aman.
“ Kka, ada apa sih kita disuruh keluar desa?” tanya Agni
“ Penyihir magis lagi menuju desa kita, dan sebelum semua terlambat kita harus bisa pergi dari desa..” jawab Cakka
“ Apa lagi sih yang mau penyihir itu cari?” tanya Kiki bingung
“ Aku gak tau, Ki..” jawab Cakka.
“ Cakka..” panggil Rizky
“ Ada apa?”
“ Aku sama Iyan barusan ngeliat keadaan desa kita dan semuanya udah rata dan hancur.” Jelas Rizky
“ Jadi, penyihir itu udah ngehancurin desa?” tanya Kiki
“ Iya..” jawab Iyan
“ Untung aja kita udah ngungsi kesini, kalo nggak bisa-bisa kita juga akan jadi hangus.” Jawab Agni
“ Trus, kita disini sampe kapan?” tanya Rizky
“ Kita tunggu Rio dan Via pulang, karena Cuma mereka harapan kita.” Jawab Kiki.
“ Huh..”
****
Malam itu bagi Ify begitu dingin, sedari tadi Ify mencoba untuk tidur namun matanya belum ingin terpejam, hingga malam hampir berubah menjadi pagi pun Ify masih tak bisa tidur dan akhirnya Ify memilih untuk keluar dari tenda dan menghangatkan tubuhnya di sisa-sisa api unggun semalam.
“ Udah subuh ternyata..” ucap Ify yang melihat langit sudah hampir terang.
Ify pun mengambil posisi duduk di pinggir tebing sambil memandang alam sekitar dan merasakan udara segar tempat itu. Dipejamkannya mata dan membiarkan udara pagi itu menerpa wajah dan tubuhnya.
“ Ify..” sapa Rio yang memang juga sudah bangun.
“ Duduk, Io..” ajak Ify. Rio pun duduk disamping Ify.
“ Kamu kog udah bangun?” tanya Rio
“ Iya, aku gak bisa tidur.”
“ Sama donk, aku juga..”
“ Emang kamu kenapa gak bisa tidur?”
“ Aku gak bisa lengah sedikitpun, Fy.. aku takut anak buah penyihir magis itu akan menyerang kita..”
“ Kamu hebat yah, berani banget hadapi semua masalah yang belum tentu aku bisa nyelesaiinnya.” Ungkap Ify
“ Gak juga kog, Fy... terkadang ketika suatu masalah yang datang dalam hidup aku, aku mencoba untuk tidak mengajak orang yang aku sayang ikut ke dalam masalah itu terutama Sivia.” Ucap Rio
“ Kamu sayang banget yah sama Sivia..”
“ Iya Fy, karna Cuma dia keluarga aku satu-satunya, dan kini setelah aku tau nenek aku masih hidup aku merasa senang.” Ify menatap wajah Rio dari samping, terlihat sebuah pancaran kesedihan yang menghinggapi dirinya.
“ Fy..”
“ Iya..”
“ Apa kamu yakin mau jadi kekasih aku?” tanya Rio
“ Kog kamu nanya gitu?”
“ Gak sih, aku Cuma takut suatu hari nanti kamu pergi dan kembali ke dunia kamu dan selamanya kamu akan lupain aku..” ucap Rio lirih.
“ Io, kamu lihat aku..., kalopun nanti aku kembali ke dunia aku, karna aku mau menyelesaikan semua urusan aku, dan aku janji setelah itu aku akan kembali sama kamu dan gak akan pergi dari samping kamu...”
“ Kamu serius?”
“ Iya... aku udah jatuh hati dengan dunia ini terutama orang yang aku sayang kan ada disini.” Ucap Ify melemparkan senyumannya.
“ Makasih Fy..” Rio mengecup lembut kening Ify. Dihadapan mereka kini matahari mulai menampakkan cahayanya, membuat kehangatan diantara Rio dan Ify kini. Sejenak mereka menyaksikan indahnya matahari terbit itu, seakan menimbulkan sebuah harapan baru untuk mereka berdua.
****
” Udah siap semua kan?” tanya Rio
“ Udah..yuk kita berangkat..” ajak Sivia
“ Vin, kaki loe gimana?” tanya Ify
“ Udah gak papa kog..” jawab Alvin
“ Ya udah, kita jalan sekarang..” sambung Gabriel.
Shilla berjalan masih dengan wajah bete.nya. ify yang melihatnya bingung dan mendekati Shilla
“ Kenapa loe?” tanya Ify
“ Gak papa kog Fy..” jawab Shilla
“ Loe bilang gak papa tapi muka loe yang gak papa.. kusut gitu..” jawab Ify
“ Udah ah, gue baik-aik aja, Cuma kecapekan aja..” jawab Shilla.
Mereka pun meneruskan perjalanan menuju arah timur. Dan nampak dari kejauhan sebuah tanah lapang yang kosong begitu luas dan hijau.
“ Gak ada apa-apa nih..Cuma tanah lapang aja ..” jawab Alvin
“ Nah itu dia masalahnya, dulu kerajaan elzora iu emang berdiri kokoh disini sekarang entah begitu aja hilang..” jelas Sivia.
“ Io, jadi gimana?” tanya Ify.
“ Aku juga bingung, Fy..” jawab Rio.
“ Apa mungkin yah kalo kerajaan itu sengaja disembunyikan oleh seseorang supaya batu keabadian itu aman.” Ucap Shilla
“ Mungkin juga Io..” sambung Gabriel
Rio pun terlihat berfikir mencoba memecahkan teka-teki yang membuat kerajaan elzora menghilang begitu saja.
“ Panas banget yah, capek lagi..” keluh Alvin
“ Kalo gak mau panas, berteduh aja sono..” ucap Shilla
“ Yah, kog jutek banget sih Shill, kamu marah?” tanya Alvin
“ Udah tau nanya..” jawab Shilla
“ Salah aku apa?”
“ Tau deh, cari sendiri kesalahan loe..” ucap Shilla.
Gabriel pun memilih untuk menepi karena hari yang begitu terik, menyandar disebuah batu besar. Namun gabriel merasa batu itu tergeser.
GGREEEEKKK..
“ Lah.lah..kenapa nih batu..” ucap Gabriel kaget
“ Ada apa kak?” tanya Ify
“ Coba kesini deh, kayaknya ada sesuatu dibalik batu ini..” ucap Gabriel yang aneh melihat sesuatu di bawah batu itu.
Rio, Sivia, Ify, Shilla dan Alvin menghampiri Gabriel dan melihat sesuatu.
“ Kak, coba deh bantu gue geser nih batu..” ucap Rio. Alvin dan Gabriel pun mencoba menggeser batu itu dan kemudian terlihat sebuah tulisan yang mengartikan sesuatu.
“ Bahasa apaan nih? Gue gak ngerti..” ucap Alvin
“ Io, ini bahasa apa? Kamu bisa bacanya?” tanya Ify
“ Bentar, aku coba..” jawab Rio mencoa membaca tulisan yang terukir di batu itu.
“ Gimana kak?” tanya Sivia
“ Ein Opfer produzieren ein Wunder” Rio membaca baris pertama dengan lancar.
“ Setzen Sie, was denken Sie ist das wertvollste Dinge in Ihrem Leben” Rio melanjutkan membaca.
“ Kak, apaan artinya?” Tanya Sivia
“ Sebuah pengorbanan akan menghasilkan suatu keajaiban … Letakkan apa yang menurut kamu adalah hal yang paling berharga dalam hidupmu” Rio mencoba mengartikan tulisan tersebut.
“ Lah?? Emang apaan yang berharga??” Tanya Shilla
“ Io, maksudnya apaan?” Tanya Ify
“ Mungkin benda yang paling berharga itu harus diletakkin disini, mungkin dengan cara itu kerajaan elzora muncul..” ungkap Sivia
“ Betul, mungkin aja..” sambung Gabriel
“ Benda berharga… emang loe punya benda berharga apa Io?” Tanya Alvin
“ Aku juga gak tau..” jawab Rio
Semua berpikir untuk memecahkan maksud dari kata-kata itu.
“ Io.. aku tau..” ucap Ify
lanjut dong...
BalasHapusEngg fantasi yaa ini.. ayoo lanjut lagi yaa.. semangaatttt
BalasHapusJanga lupa juga kunjungi blog gue yaa: obatkistatradisional
Ka lanjut lagi dong penasaran nih....
BalasHapusLanjut lagi dong....
BalasHapus