Blogger Templates

Selasa, 14 Juni 2011

Magic Falls Part 10


Part 10

2 Orang bertubuh kecil dibawah Alvin dan Gabriel atau lebih tepatnya kurcaci sedang membawa sebuah kayu yang bertujuan untuk menghabisi mereka.

“ Loe gak papa Vin?” tanya Shilla yang melihat Alvin terkapar di tanah.

“ Kaki gue sakit..” Alvin meringis kesakitan.

“ Vi, mereka siapa?” tanya Gabriel

“ Anak buah penyihir magis kak..” jawab Sivia

“ Trus kita harus ngapain? Mereka berbahaya gak?”

“ Gak kak.. kita coba lawan aja...” ucap Sivia yang juga memegang tombak Rio yang dititipkannya pada Sivia.

Gabriel dan Sivia pun menghadapi 2 kurcaci itu. Dengan mudahnya Gabriel yang jauh lebih tinggi memegang kepala kurcaci itu yang akan memukul Gabriel namun hasilnya kurcaci itu tak dapat memukul Gabriel. Dengan cepat Gabriel memberikan bogem mentahnya ke wajah dan perut kurcaci itu.

“ Dasar bocah ingusan, mau melawan gue yah loe..” ejek Gabriel, lalu ia membantu Sivia.

Kurcaci yang sudah babak belur dihajar Gabriel berlari menuju jembatan dan memutuskan tali jembatan itu, membuat Rio dan Ify yang masih berjalan menuju seberang sedikit tergoyah.

“ Kak Iyel..Via.. jembatannya..” teriak Shilla. Gabriel yang menoleh akhirnya terkena pukulan kurcaci itu.

“ Aduuhh..” rintih Gabriel, namun Gabriel menuju jembatan itu.

Kedua kurcaci itu langsung pergi.

“ Fy, gawat, tali jembatannya mau putus..lebih baik kamu cepetan jalan..” suruh Rio.                

“ Via, bantu gue megang tali ini..” ucap Gabriel yang memegang tali yang hampir putus

“ Kak Ify, kak Rio, buruan.. talinya mau putus..” teriak Sivia.

Rio dan Ify mempercepat langkahnya dan akhirnya sampai diseberang. Dan jembatan itu pun putus.

“ Vin, kaki kamu kenapa?” tanya Rio

“ Tadi ada anak buah penyihir magis kak menyerang kita.” ucap Sivia.

“ Gue gak papa kog, Io.” Ucap Alvin yang masih menahan kakinya yang sakit.

“ Gak papa gimana, kaki loe memar gitu..emang bisa jalan?” tanya Shilla

“ Hehhe..kalo dibantu jalan sih bisa..” Alvin Cuma nyengir.

“ Ya udah, kita cari tempat yang aman buat istirahat.” Ajak Rio berjalan menuju sebuah tebing yang cukup tinggi tempatnya.

Mereka pun istirahat di sebuah tebing yang memiliki keindahan yang amat luar biasa karena dari tebing itu mereka dapat melihat keseluruhan hutan sekitar, serta hamparan laut yang membentang di balik hutan.

“ Vin, kaki loe masih sakit?” tanya Gabriel.

“ Lumayanlah kak, mendingan dari yang tadi.” Jawab Alvin

“ Kak, nih..” ucap Sivia memberikan sebuah minuman

“ Apaan nih?” tanya Alvin

“ Itu obat buat nyembuhin luka memar di kaki kakak.” JelaS Sivia

“ Kog aneh sih baunya?” Protes Alvin

“ Yah namanya juga obat mana ada yang enak..” ucap gabriel menoyor kepala Alvin

“ Ah kak Iyel kerjaan loe Cuma nyiksa gue mulu..” cerca Alvin

“ Udah buruan minum, biar kaki loe cepet sembuh.” Suruh Gabriel

“ Iya..iya..”

Alvin pun meminum sejenis obat yang berbentuk jamu yang dibuat oleh Sivia. Perlahan tapi pasti Alvin menghabiskannya.

“ Huueek..pahit banget sih..” ucap Alvin

“ Banyak protes loe..” ucap Gabriel

Shilla Cuma manyun liat kejadian itu. Aslinya cemburu sama Sivia.
****

Semua warga desa sudah mengungsi ke tempat yang aman.

“ Kka, ada apa sih kita disuruh keluar desa?” tanya Agni

“ Penyihir magis lagi menuju desa kita, dan sebelum semua terlambat kita harus bisa pergi dari desa..” jawab Cakka

“ Apa lagi sih yang mau penyihir itu cari?” tanya Kiki bingung

“ Aku gak tau, Ki..” jawab Cakka.

“ Cakka..” panggil Rizky

“ Ada apa?”

“ Aku sama Iyan barusan ngeliat keadaan desa kita dan semuanya udah rata dan hancur.” Jelas Rizky

“ Jadi, penyihir itu udah ngehancurin desa?” tanya Kiki

“ Iya..” jawab Iyan

“ Untung aja kita udah ngungsi kesini, kalo nggak bisa-bisa kita juga akan jadi hangus.” Jawab Agni

“ Trus, kita disini sampe kapan?” tanya Rizky

“ Kita tunggu Rio dan Via pulang, karena Cuma mereka harapan kita.” Jawab Kiki.

“ Huh..”

****
Malam itu bagi Ify begitu dingin, sedari tadi Ify mencoba untuk tidur namun matanya belum ingin terpejam, hingga malam hampir berubah menjadi pagi pun Ify masih tak bisa tidur dan akhirnya Ify memilih untuk keluar dari tenda dan menghangatkan tubuhnya di sisa-sisa api unggun semalam.

“ Udah subuh ternyata..” ucap Ify yang melihat langit sudah hampir terang.

Ify pun mengambil posisi duduk di pinggir tebing sambil memandang alam sekitar dan merasakan udara segar tempat itu. Dipejamkannya mata dan membiarkan udara pagi itu menerpa wajah dan tubuhnya.

“ Ify..” sapa Rio yang memang juga sudah bangun.

“ Duduk, Io..” ajak Ify. Rio pun duduk disamping Ify.

“ Kamu kog udah bangun?” tanya Rio

“ Iya, aku gak bisa tidur.”

“ Sama donk, aku juga..”

“ Emang kamu kenapa gak bisa tidur?”

“ Aku gak bisa lengah sedikitpun, Fy.. aku takut anak buah penyihir magis itu akan menyerang kita..”

“ Kamu hebat yah, berani banget hadapi semua masalah yang belum tentu aku bisa nyelesaiinnya.” Ungkap Ify

“ Gak juga kog, Fy... terkadang ketika suatu masalah yang datang dalam hidup aku, aku mencoba untuk tidak mengajak orang yang aku sayang ikut ke dalam masalah itu terutama Sivia.” Ucap Rio

“ Kamu sayang banget yah sama Sivia..”

“ Iya Fy, karna Cuma dia keluarga aku satu-satunya, dan kini setelah aku tau nenek aku masih hidup aku merasa senang.” Ify menatap wajah Rio dari samping, terlihat sebuah pancaran kesedihan yang menghinggapi dirinya.

“ Fy..”

“ Iya..”

“ Apa kamu yakin mau jadi kekasih aku?” tanya Rio

“ Kog kamu nanya gitu?”

“ Gak sih, aku Cuma takut suatu hari nanti kamu pergi dan kembali ke dunia kamu dan selamanya kamu akan lupain aku..” ucap Rio lirih.

“ Io, kamu lihat aku..., kalopun nanti aku kembali ke dunia aku, karna aku mau menyelesaikan semua urusan aku, dan aku janji setelah itu aku akan kembali sama kamu dan gak akan pergi dari samping kamu...”

“ Kamu serius?”

“ Iya... aku udah jatuh hati dengan dunia ini terutama orang yang aku sayang kan ada disini.” Ucap Ify melemparkan senyumannya.

“ Makasih Fy..” Rio mengecup lembut kening Ify. Dihadapan mereka kini matahari mulai menampakkan cahayanya, membuat kehangatan diantara Rio dan Ify kini. Sejenak mereka menyaksikan indahnya matahari terbit itu, seakan menimbulkan sebuah harapan baru untuk mereka berdua.

****

” Udah siap semua kan?” tanya Rio

“ Udah..yuk kita berangkat..” ajak Sivia

“ Vin, kaki loe gimana?” tanya Ify

“ Udah gak papa kog..” jawab Alvin

“ Ya udah, kita jalan sekarang..” sambung Gabriel.

Shilla berjalan masih dengan wajah bete.nya. ify yang melihatnya bingung dan mendekati Shilla

“ Kenapa loe?” tanya Ify

“ Gak papa kog Fy..” jawab Shilla

“ Loe bilang gak papa tapi muka loe yang gak papa.. kusut gitu..” jawab Ify

“ Udah ah, gue baik-aik aja, Cuma kecapekan aja..” jawab Shilla.

Mereka pun meneruskan perjalanan menuju arah timur. Dan nampak dari kejauhan sebuah tanah lapang yang kosong begitu luas dan hijau.

“ Gak ada apa-apa nih..Cuma tanah lapang aja ..” jawab Alvin

“ Nah itu dia masalahnya, dulu kerajaan elzora iu emang berdiri kokoh disini sekarang entah begitu aja hilang..” jelas Sivia.

“ Io, jadi gimana?” tanya Ify.

“ Aku juga bingung, Fy..” jawab Rio.

“ Apa mungkin yah kalo kerajaan itu sengaja disembunyikan oleh seseorang supaya batu keabadian itu aman.” Ucap Shilla

“ Mungkin juga Io..” sambung Gabriel

Rio pun terlihat berfikir mencoba memecahkan teka-teki yang membuat kerajaan elzora menghilang begitu saja.

“ Panas banget yah, capek lagi..” keluh Alvin

“ Kalo gak mau panas, berteduh aja sono..” ucap Shilla

“ Yah, kog jutek banget sih Shill, kamu marah?” tanya Alvin

“ Udah tau nanya..” jawab Shilla

“ Salah aku apa?”

“ Tau deh, cari sendiri kesalahan loe..” ucap Shilla.

Gabriel pun memilih untuk menepi karena hari yang begitu terik, menyandar disebuah batu besar. Namun gabriel merasa batu itu tergeser.

GGREEEEKKK..

“ Lah.lah..kenapa nih batu..” ucap Gabriel kaget

“ Ada apa kak?” tanya Ify

“ Coba kesini deh, kayaknya ada sesuatu dibalik batu ini..” ucap Gabriel yang aneh melihat sesuatu di bawah batu itu.

Rio, Sivia, Ify, Shilla dan Alvin menghampiri Gabriel dan melihat sesuatu.

“ Kak, coba deh bantu gue geser nih batu..” ucap Rio. Alvin dan Gabriel pun mencoba menggeser batu itu dan kemudian terlihat sebuah tulisan yang mengartikan sesuatu.

“ Bahasa apaan nih? Gue gak ngerti..” ucap Alvin

“ Io, ini bahasa apa? Kamu bisa bacanya?” tanya Ify

“ Bentar, aku coba..” jawab Rio mencoa membaca tulisan yang terukir di batu itu.

“ Gimana kak?” tanya Sivia

Ein Opfer produzieren ein Wunder” Rio membaca baris pertama dengan lancar.

Setzen Sie, was denken Sie ist das wertvollste Dinge in Ihrem Leben” Rio melanjutkan membaca.

“ Kak, apaan artinya?” Tanya Sivia

“ Sebuah pengorbanan akan menghasilkan suatu keajaiban … Letakkan apa yang menurut kamu adalah hal yang paling berharga dalam hidupmu” Rio mencoba mengartikan tulisan tersebut.

“ Lah?? Emang apaan yang berharga??” Tanya Shilla

“ Io, maksudnya apaan?” Tanya Ify

“ Mungkin benda yang paling berharga itu harus diletakkin disini, mungkin dengan cara itu kerajaan elzora muncul..” ungkap Sivia

“ Betul, mungkin aja..” sambung Gabriel

“ Benda berharga… emang loe punya benda berharga apa Io?” Tanya Alvin

“ Aku juga gak tau..” jawab Rio

Semua berpikir untuk memecahkan maksud dari kata-kata itu.

“ Io.. aku tau..” ucap Ify

Magic Falls Part 9


Part 9

“ Io, abis ini kita kemana?” tanya Gabriel.

“ Kita harus ngelewati jurang kak..” jawab Rio.

“ Hah? Jurang?” tanya Shilla kaget.

“ Tapi tenang aja kog, yang aku tau ada jembatannya..” sambung Sivia

“ Aman gak?” tanya Alvin

“ Gak tau juga.” Jawab Sivia menggeleng

“ Fy, kenapa sih kamu mau ikut aku ke timur?” tanya Rio

“ Ya..pengen tau aja dunia magis ini lebih jauh..” jawab Ify

“ Oh...”

“ Nih, Io. Syal kamu..” ucap Ify memberikan syal milik Rio.

“ Kamu pegang aja dulu Fy....” Ucap rio.

“ Tapi ini kan..”

“ Ssstt...aku mau kamu jaga ini baik-baik..” Ucap Rio menempelkan jari telunjuknya ke bibir Ify.

DEG..DEG.. Detak jantung Ify gak karuan saat muka Rio dan Ify hanya beberapa centi.

“ Aku sayang sama kamu.” Ucap Rio pelan.

“ Kamu mau gak jadi kekasih aku?” tanya Rio lagi. Ify mengangguk pelan.

“ Aku mau, Io. Aku juga sayang sama kamu...” balas Ify.

Rio pun mengecup kening Ify lembut.

“ Makasih, Fy..” ucap Rio.

“ EEEHHEMMMMM..EHEMMM..” Gabriel dan Sivia mengganggu sepasang insan yang akan menyatu.

Rio dan Ify pun sadar dari dunia mereka.

“ Loh? Kog gak jalan sih?” tanya Rio malu melihat Shilla, Alvin, Sivia dan Gabriel sedang duduk manis seolah sedang menonton film.

“ Kan yang tau jalan elo, harusnya loe yang mimpin kenapa jadi pacaran nih?” tanya Alvin

“ Hehe..maaf deh..” Rio pun berjalan memulai kembali untuk memimpin perjalanan.

“ Ciiee..Ify..dapet pacar juga nih best friend gue...selamet yah..” ucap Shilla.

“ Makasih Shill.”

“ Fy, loe yakin pacaran sama Rio?” tanya Gabriel.

“ Iya kak..” jawab Ify pasti

“ Berarti loe harus terima semua konsekuensi yang akan loe hadapi nanti..!!”

“ Gue siap kak..”

Sivia pun menghampiri Ify.

“ Kak..selamat yah udah bisa jadi pemilik hati kak Rio.. Via seneng deh kalo kak Ify yang jadi kekasihnya kak Rio..” ucap Sivia senang

“ Kakak janji gak akan nyakitin Rio..” ucap Ify membelai rambut Sivia.

“ Makasih kak..”

Mereka pun terus menuju sebuah jurang yang harus dilewati dan mereka sampai di sebuah jembatan yang akan mereka lewati untuk kesebrang.

“ Ini dia jembatannya..” ucap Gabriel.

“ Jembatan tali?” tanya Alvin. Sivia mengangguk

“ Aman gak nih?” tanya Shilla

“ Kita coba aja nyebrang.” Ucap Rio.

“ Io, talinya udah keliatan rapuh deh..” kata Ify sambil memegang tali jembatan.

“ Dan jurangnya pun dalem banget.” Sambung Sivia.

“ Oke..kalo gitu, kita coba jalan satu persatu, Vin loe yang di depan..” koor Rio.

“ Lah kog gue, kak Iyel aja noh.”

“ Okelah, gue yang di depan..” ucap gabriel ngalah.

Gabriel mencoba melangkah perlahan melewati jembatan sambil memegang tali sebagai pegangan.

“ Via, sekarang kamu...” ucap Rio. Sivia mengangguk dan berjalan menyusul gabriel yang hampir di tengah jembatan.

“ Eh, gue gak mau terakhir, gue duluan yah..” ucap Shilla. Rio mengangguk.

“ Vin, loe kan gak mau di depan, nah loe terakhiran aja yah..” ucap Ify.

“ Yah kog gitu sih, gue maunya di tengah-tengah... plis.. gue duluan yah, gue gak mau dibelakang.” Melas Alvin.

“ Ya udah, buruan maju..” ucap Rio.

“ Yuk Fy..kamu duluan..” ucap Rio.

“ Apa gak sebaiknya tunggu mereka sampai dulu?” tanya Ify

“ Gak perlu Fy, aku yakin jembatan ini masih kuat kog.” Ucap Rio meyakinkan Ify. Akhirnya Ify pun mulai berjalan diatas jembatan disusul oleh Rio dibelakangnya.

****

Cakka, Kiki dan pemuda lainnya sedang berjaga di gerbang desa.

“ Rio udah nyampe mana yah?” tanya Cakka

“ Gak tau Kka..” jawab Kiki

“ Kayaknya aman-aman aja deh, gak ada pergerakan yang curiga dari penyihir magis..” ucap Cakka

“ Kita gak boleh lengah, siapa tau dengan kita lengah mereka datang menyerang desa ini.” Ucap Kiki

Lalu ada rizky yang sedang mencari obat-obatan di hutan berlari terengah-engah menghampiri Cakka dan Kiki.

“ Gawat..gawat..” ucap Rizky

“ Ada apa?” tanya Kiki

“ Di perbatasan desa semua pohon obat-obatan dihancurkan oleh penyihir magis, dan mereka juga lagi berjalan ke arah desa kita.” Ucap Rizky

“ Trus kita harus ngapain?” tanya Kiki

“ Leih baik kita ajak seluruh warga desa untuk bersembunyi, kekuatan kita gak cukup untuk melawan penyihir itu.” Usul Cakka. Semua mengangguk dan memberikan kabar ke seluruh warga desa untuk bersembunyi.

****
Gabriel hampir sampai di ujung jembatan, ia pun bergegas berjalan. Namun sesuatu membuat langkahnya terhenti.

“ Ada ular..” ucap Gabriel kaget yang melihat sebuah ular sedang melingkar di tali pinggiran.

“ Ada apa kak?” tanya Sivia yang ada dibelakangnya

“ Ular Vi..” jawab Gabriel.

Sivia melihat tempat yang ditunjuk Gabriel.

“ Itu gak nyata kak..” jawab Sivia lagi

“ Maksud kamu?”

“ Itu hanya seuah fatamorgana yang dibuat untuk menakut-nakuti orang yang melewati jembatan ini.” Jelas Sivia.

“ Tapi itu kaya asli..”

“ Coba deh kakak liat, ular itu sama sekali gak bergerak.. itu sengaja dibuat oleh penyihir magis supaya kita gak akan sampai ke kerajaan Elzora.. kakak pelan-pelan aja melewatinya, pasti bisa.” Ucap Sivia menyemangati. Gabriel pun perlahan melewati ular itu dan seketika itu ular itu hilang.

Gabriel dan Sivia pun sampai menyebrang. Disusul oleh Shilla dan Alvin.

“ Ada apa sih tadi?” tanya Alvin

“ Gak ada apa-apa kog, mana Ify?” tanya gabriel

“ Tuh dibelakang sama Rio..” tunjuk Shilla.


Lalu tiba-tiba ada yang memukul kakiAlvin dengan sebuah kayu.

“ AAWWW..” Rintih Alvin

“ Woi..siapa loe?” tanya gabriel

Magic Falls Part 8


Part 8

“ Manda adalah anak saya.dan kamu serta Rio adalah cucu nenek..” ungkap Nek Inten

“ Hah? Yang bener? Trus kenapa nenek bisa tinggal disini? Setau Via, nenek Via udah meninggal..” kata Sivia masih tak percaya.

“ Setelah kejadian perang antara kerajaan Elzora dan penyihir magis itu, nenek memang sengaja menyuruh ibu dan ayahmu untuk pergi membawa kamu dan Rio untuk tidak ikut perang... dan yang mereka tau nenek meninggal tapi sebenarnya enggak... dan sekarang kerajaan Elzora itu hilang bagai di telan bumi..” cerita nenek Inten.

Ify, Sivia dan Shilla masih cengo dengerin ceritanya.

“ Kalian tunggu sebentar..” Nenek Inten masuk ke dalam gubuk untuk mengambil sesuatu.

“ Kak Rio..” panggil Sivia. Rio menoleh

“ Kesini bentar..” ajak Sivia. Rio pun memasuki gubuk.

“ Ada apa?” tanya rio

“ Kamu harus dengerin sesuatu.. duduk Io.” Ajak Ify. Tak lama Nek Inten keluar dengan sebuah kotak cukup besar.

“ Nih..kamu buka..” kata Nek Inten memberikan kotak kepada Sivia.

” Ada apa sih?” tanya Rio bingung

“ Kak..nek Inten ini nenek kita, orang tua bunda..” jelas Sivia.

“ Yang bener?” tanya Rio tak percaya.

Sivia membuka perlahan kotak itu dan melihat isinya. Ada sebuah syal kecil bertuliskan nama Manda Azizah dan Zeth Haling. Serta sebuah bulu dari burung elang yang memiliki inisial ‘R’.

“ Ini punya bunda dan ayah nek?” tanya Rio. Nek inten mengangguk

“ Trus bulu burung elang ini punya siapa?” tanya Rio

“ Itu punya kamu, Io.. ayahmu sendiri yang mengukir Inisial itu.” Jelas Nek Inten

“ Io, Nek Inten ini bener nenek kamu..” ucap Ify.

Sivia pun langsung memeluk neneknya yang mungkin satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Rio pun ikut memeluk neneknya.

“ Maafin nenek yah udah biarin kalian tinggal berdua..” ucap neneknya

“ Iya...nek..” ucap Sivia

Gabriel dan Alvin pun masuk ke gubuk.

“ Io, perahunya udah tuh...” ucap Gabriel.

“ Ya udah kita berangkat sekarang..” ajak Rio.

“ Nek, Via sama kak Rio pamit yah..” ucap Sivia

“ Rio janji nek, kalo semua udah membaik, Rio akan jemput nenek untuk tinggal sama kita.” Sambung Rio.

“ Iya.. nih Io, bawa tombak ini di jalan nanti kamu akan butuhinnya.” Kata Nek Inten memberikan sebuah tombak yang terbuat dari perak.

“ Makasih Nek.. yuk kita pergi.” Ajak Rio menuju perahu.

“ Trus perahunya udah yakin cukup untuk berenam?” tanya Shilla

“ Iya..dijamin deh...” jawab Alvin.

Sivia, Shilla Alvin dan Gabriel memasuki perahu satu persatu.

“ Nak Ify..” panggil Nek Inten. Ify menoleh sebentar

“ Iya nek..” jawab Ify

“ Ini untuk kamu, jaga baik-baik yah seperti kamu menjaga perasaan kamu untuk Rio.” Kata Nek Inten memberikan sebuah kalung berbandul permata.

“ Kog kasih ke Ify nek?”

“ Kelak kamu akan jadi pendamping Rio.. dan Cuma kamu yang bisa membantu Rio nanti.” Pesan Nek Inten. Ify pun menerimanya.

“ Yuk Fy..” ajak rio menghampiri Ify yang sedang mengobrol dengan Nek Inten

“ Rio.. kamu jaga baik-baik yah Ify..” pesan Nek Inten.

“ Iya Nek..” ucap Rio. Ify Cuma tertunduk malu sambil berjalan menuju perahu.

Alvin, Gabriel, dan Rio pun mulai menggayung untuk menjalankan perahu.

“ Ada buayanya gak yah nih sungai?” tanya Shilla ngeri.

“ Setiap sungai besar biasanya ada buaya kak.. apalagi sungai elzora ini terkenal dengan buayanya yang ganas..” ungkap Sivia.

“ Waduh..jangan sampe kita kecebur deh..gue masih mau hidup..” sambung Alvin. Semua tertawa kecil mendengar kata-kata Alvin.

Hampir 1 jam mereka berada di sungai dan akhirnya daratan pun terlihat, mereka menggayung lebih cepat. Namun ada sesuatu yang menabrak perahu mereka.

DDUUGGG..

“ AAAAAAA..” Teraik Shilla, Sivia dan Ify kaget

“ Wah, Io ada apa nih?” tanya Gabriel

“ Gue takut kak..” kata Alvin

DDUUGGG..

“ Jangan berhenti gayung..kita terusin aja...” ucap Rio memimpin semuanya.

“ Tapi..bunyi apa itu?” tanya Ify.

“ Buaya lagi mengelilingi perahu kita..sebaiknya kita jangan panik.. Kak iyel, Alvin terusin menggayungnya..” koor Rio lagi.

Alvin dan Gabriel pun mempercepat gayungan mereka. Dan buaya itupun tak henti-hentinya menabrakkan badannya ke perahu.

“ Kak..aku takut..” ucap Sivia.

“ Bentar lagi kita sampai,,” ucap Rio menenangkan adiknya.

“ KYAAA..Perahunya bocor...” teriak Shilla menggegerkan penghuni perahu

“ Io..perahunya bocor..” sambung Gabriel.

Jarak mereka dengan daratan hanya tinggal 2 meter dan sungai pun sudah tak terlalu dalam.

“ Sebaiknya kalian turun dari kapal dan berlari menuju daratan..” perintah Rio.

“ Tapi buayanya Io?” tanya Alvin.

“ Mereka gak akan mengejar kalian..cepetan keluar dari perahu SEKARANG...”

“ Tapi kamu, Io?” tanya Ify

“ Gak usah khawatirin aku, Fy.. aku mau menghalangi buaya itu mengejar kalian.” Ucap Rio

Shilla, Alvin, Gabriel, Sivia dan Ify pun mulai berlari menuju daratan diikuti dengan Rio dibelakang mereka. Salah satu buaya mendekati Sivia yang sedang berlari, Rio mengambil langkah cepat dan menggunakan tombaknya untuk membunuh buaya itu.

JJLLEPP.. Sekejap buaya itu mati, dan Rio terus berlari menuju daratan. Dan mereka berenam pun selamat.

“ Huhh...baru aja dimulai udah gini, apalagi nanti..” keluh Shilla

“ Bener, gue takut banget tadi..” sambung Alvin.

“ Penakut loe.” Ejek Ify.

“ Iya, masa si mantan ketua osis takut sih..” sambung Gabriel

“ Kalo masalah yang udah menyangkut nyawa, gue nyerah deh..gue ngaku kalah..” ucap Alvin jujur.

“ Hahahaha..akhirnya loe ngaku juga Vin..” kata ify tertawa.

“ Ye..puas loe semua....” Ucap Alvin masih mengatur nafasnya.

“ Kak, kamu gak papa kan?” tanya Sivia mendekati Rio yang terduduk tepat disamping tombaknya yang berlumuran darah buaya.

“ Iya, Vi.. kakak gak papa kog.” Ucap Rio tersenyum.

“ Wah.. ada pohon kelapa tuh..” ucap Gabriel

“ Trus kenapa?” tanya Alvin.

“ Ambil yuk, haus nih gue..” ajak Gabriel

“ Io, kita boleh kan ngambil buah kelapa itu?” tanya Alvin. Rio mengangguk. Karena mereka dilarang mengambil sembarang buah di hutan itu.

“ Emang mau ngambil pake apaan?” tanya Shilla

“ Tuh Alvin ada,, suruh aja di yang manjat.” Ucap gabriel seenaknya.

“ Ye..apaan loe kak.. kan elo yang mau, kenapa gue yang disuruh manjat.. gak..gak..” tolak Alvin

“ Jadi loe gak mau minum tuh kelapa?” tanya Gabriel.

“ Mau sih.. tapi jangan gue donk kak, gue takut ketinggian nih..” ucap Alvin memelas.

“ Ya udah, kalo gue yang manjat berarti loe gak boleh ikutan minum, gimana?” ancam Gabriel

“ Io, loe bisa manjat gak?” tanya Alvin

“ Enggak.” Jawab Rio bohong. Gabriel telah memberi aba-aba pada Rio supaya berkata bohong. Dan Alvin yang memanjat.

“ Huuuhhh.. ya udah deh, gue nyoba manjat yah..” Akhirnya Alvin pun mengalah. Ify, Shilla, Sivia dan Rio tertawa kecil melihat Alvin yang mencoba memanjat.

“ Vin..hati-hati... kalo loe jatuh, gak ada lagi pangeran kodok gue..” ucap Shilla nyemangatin.

Alvin telah berada diatas pohon lalu ia melihat ke bawah.

“ Ah gila... tinggi amat sih,,” gumam Alvin ngeri.

“ Buruan Vin, jatuhin kelapanya” ucap Ify.

Alvin pun menjatuhkan 3 buah kelapa lalu bergegas turun.

HHAAPP..

“ Untung deh loe selamet..” ucap gabriel tersenyum kecil dan menepuk pundak Alvin sambil membawa buah kelapa itu untuk dibuka.

“ Pokoknya gue gak mau berhubungan lagi dengan ketinggian..” ucap Alvin

“ Udah, gak usah ribut lagi deh, mending sekarang kita minum nih air kelapanya.” Ucap Sivia.

“ Vin, sebenernya aku bisa kog manjat, tapi kak Iyel udah nyuruh aku buat bohong supaya kamu yang manjat..” kata Rio yang duduk disamping Alvin yang meminum air kelapanya.

“ Dasar kak Iyel..tunggu pembalasan gue..hehehe..” Alvin tersenyum kecil.

Mereka pun beristirahat sebentar dan ketika hampir sore, mereka melanjutkan perjalanan.

Magic Falls Part 7


Part 7

Setelah selesai makan mereka mengelilingi api unggun yang masih membara.

“ Fy, jelasin semuanya donk, aku gak ngerti nih..tempat apa ini dan kenapa kita bisa ada disini..” kata Shilla. Ify mengangguk

“ Io, kamu kan tau aku belum paham tentang dunia kamu, bisa gak kamu jelasinnya sekarang..” ucap Ify

Rio pun berdiri memberi penjelasan ke Ify dkk.

“ Hm..gini, kalian lagi ada di hutan Angel’s... aku juga gak ngerti kenapa kalian bisa disini... dan yang harus aku kasih tau, dunia ini lagi dalam keadaan gak aman..dan aku minta kalian pulang dari sini..” jelas Rio

“ Rio..kog kamu nyuruh kita pulang?” tanya Ify bingung

“ Fy, masalahnya sekarang lagi rumit, aku sama Sivia harus ke arah timur untuk nyari kerajaan yang udah hilang beberapa puluh tahun lalu..” kata Rio

“ Kaya dongeng aja yah..” ucap Shilla

“ Sebenernya mau ngapain kalian kesana?” tanya Gabriel

“ Baiklah, aku akan ceritain semuanya, kenapa tadi aku bilang gak aman, karena  penyihir magis akan mengusai dunia ini dan mungkin dia akan menghancurkan semua manusia yang menghalanginya untuk menguasai dunia magis, dan untuk itu, aku dan Sivia mau mencari batu yang bisa melumpuhkan penyihir magis itu..”

“ Penyihir?" kata Ify, Gabriel, Alvin dan Shilla kaget

“ Iya..penyihir magis yang udah membunuh orang tua kami..” sambung Sivia

“ Aku gak mau pulang, aku mau nemenin kamu..” kata Ify

“ Fy..tapi kan terlalu berbahaya..” kata Shilla

“ Shil, dari pada kita pulang gak dapet apa-apa, mending kita bantu Rio dan Sivia, sekalian buat tambah pengalaman..” kata Gabriel

“ Betul tuh..pasti seru deh..” sambung Alvin

“ Alvin...” kata Shilla melihat ke Alvin

“ Gak papalah Shil, kan ada aku..” kata Alvin

“ Nah, Io. Kami setuju untuk bantu kamu.. jadi aku mohon jangan nyuruh aku pulang yah..” kata Ify

“ Udahlah kak, gak papa deh, kan bisa rame kalo cari sama-sama..” kata Sivia

“ Ya udah lah, tapi kalo emang udah terlalu berbahaya, aku minta kalian pulang..” kata Rio

“ Sip...” kata Ify mengacungkan jempolnya

“ Hooaammm..” Alvin menguap

“ Ngantuk nih, tidur yuk..” ajak Alvin

“ Vin, kita diriin tenda yuk..” usul Gabriel. Alvin mengangguk. Rio sama Sivia Cuma diam tak mengerti apa yang akan dilakukan Gabriel dan Alvin

“ Io, ini bisa jadi tempat tinggal untuk di hutan...” kata Ify. Tak lama 2 tenda telah berdiri dan siap ditinggali.

“ Akhirnya bisa istirahat juga..” kata Shilla yang langsung masuk ke tenda

“ Yuk, Vi..ikut masuk..” ajak Ify. Sivia pun mengikuti Ify, begitu pula Rio yang ikut masuk ke tenda Gabriel dan Alvin

****
@Tenda Ify, Sivia dan Shilla

“ Ini apaan yah?” tanya Sivia polos

“ Ini semacam tempat yang bisa ditnggalin kalo lagi jalan-jalan di tengah hutan atau tempat lainnya..” Ify mencoba menjelaskan supaya Sivia mengerti

“ Eh, kan kamu seumuran sama kak Rio, jadi aku juga manggilnya kakak yah..” kata Sivia sopan

“ Terserah kamu aja deh Vi..” jawab Ify.

Sivia melirik ke Shilla yang sudah terlelap tidur dengan selimutnya. Mereka berdua pun memilih untuk tidur

@Tenda Rio, Alvin dan gabriel

“ Io, loe Cuma tinggal berdua sama adik loe?” tanya Gabriel

“ Iya..” jawab Rio yang sudah mengerti bahasa yang Gabriel dan Alvin gunakan

“ Ify cantik gak?” goda Alvin

“ Iya, dia cantik banget..” jawab Rio polos

“ Wah kak, kayanya Rio suka deh sama adik loe..” bisik Alvin ke Gabriel

“ Bener Io kamu suka sama Ify?” tanya Gabriel. Rio mengangguk yakin.

“ Aku manggil kamu kakak donk..” ucap Rio ke Gariel.

“ Ya iyalah, kan loe seumuran adek gue..” jawab Gabriel.

“ Eh, boleh nanya gak Io?” tanya Alvin

“ Nanya apa?”

“ Dunia magis ini sudah ada sejak kapan?”

“ Aku sih kurang tau mengenai awal terbentuknya dunia magis ini, tapi katanya dulu ada sekelompok orang yang lagi mengalami kesusahan dan mereka menemukan dunia ini dari balik gua tempat kalian masuk.” Jelas Rio.

“ Berarti mereka berasal dari tempat kita donk kak?” tanya Alvin.

“ Mungkin.”

“ Kak, boleh aku tidur?” tanya Rio.

“ Bolehlah, kita sekarang tidur aja..”

****
Besok pagi mereka semua bangun. Shilla, Ify dan Sivia memilih untuk ke sungai.

“ Gerah banget deh, pengen mandi gue.” Ucap Shilla.

“ Maaf kak, di hutan ini kita hanya boleh menggunakan sumber daya alam hanya untuk makan selebihnya kita dilarang untuk mandi dan lain-lain.” Ungkap Sivia.

“ Yah...masa sih gitu.” Ucap Shilla lesu.

“ Mending kita cuci muka aja dulu.” Ucap Ify mengusap air sungai ke mukanya. Sivia memperhatikan syal kecil yang ada dipergelangan Ify.

“ Kak, itu syal kakak?” tanya Sivia

“ Oh, bukan Via, ini punya kakak kamu.”

“ Kog bisa di kak Ify?”

“ Waktu itu aku jatuh nah di nutupin luka aku pake syal ini, kenapa?”

“ Oh gak kog..”

‘ Kak Rio kenapa harus bohong sih ‘ batin Sivia kesal.

“ Ya udah kita kembali ke tenda yuk.” Ajak Ify.

Mereka pun menyantap makanan yang seadanya. Gabriel, Alvin dan Rio sudah mendapat beberapa buah dari hutan.

“ Abis ini kita langsung berangkat kan, Io?” tanya Ify.

“ Iya Fy..waktunya tinggal bentar lagi.” Jawab Rio.

Selesai makan, mereka pun memulai perjalanan yang dipimpin oleh Rio. Mereka pun mencoba menyebrangi sungai untuk sampai keseberang.

“ Gak ada perahu yah?” tanya Alvin. Rio masih melihat kesekitar mencoba mencari sesuatu untuk menyebrang.

“ Nah itu ada perahu, kita kesana..” ucap Rio. Merka pun mengikuti langkah Rio.

“ Kecil banget perahunya, kita kan berenam dan kemungkinan perahu ini hanya cukup untuk 3 orang.” Ucap Gabriel.

“ Iya, apalagi kayaknya udah gak ke pake deh.” Sambung Shilla.

“ Io, itu ada gubuk deh, kita liat yuk siaap tau ada orangnya.” Usul Ify. Rio mengangguk dan menuju gubuk itu.

TOK..TOKK.TOK. Ify mengetuk pintu dan tak lama keluarlah seorang nenek yang sudah amat tua. Ify, Alvin, Shilla dan gabriel sedikit terkejut melihat wajah nenek itu yang sudah amat keriput.

“ Siapa kalian?” tanya nenek itu tajam ke mereka ber-6

“ Maaf nek, kami sebenernya mau ke arah timur dan kami harus menyebrangi sungai ini dan kami lihat ada perahu di samping gubuk ini, apa itu milik nenek?” tanya Sivia

“ Iya, itu milik saya.” Jawab nenek itu singkat.

“ Hm..apa kami boleh memakainya?” tanya Rio.

“ Apa kalian yakin mau memakainya, perahu itu sudah hampir 10 tahun tak digunakan karena tak layak dipakai lagi.” Jelas nenek itu

“ Kami akan mencoba memperbaikinya, dan setelah itu kami bolehkan memakainya?” tanya Rio.

“ Silahkan...” jawab nenek itu.

“ Kak, kita cari kayu uat memerbaiki kapal itu.” Usul Rio. Mereka berdua pun mencari disekitar hutan.

Tinggallah Ify, Sivia, Shilla dan Alvin di gubuk nenek itu. Suasana amat sunyi lalu nenek itu memandang Ify dengan tatapan heran.

“ Kamu dapat dari mana syal itu?” tanya nenek itu.

“ Ini bukan milik saya nek, ini milik Rio, laki-laki yang mencari kayu tadi.” Jelas Ify.

“ Iya nek, itu milik kakak saya, kenapa emangnya? Saya juga punya kog nek.” Sambung Sivia.

“ Vin, serem banget sih nih nenek.” Bisik Shilla.

“ Iya..gue ngeri liatnya.” Balas Alvin

“ Kenapa kalian bicarain saya?” tanya nenek itu pada Shilla dan Alvin. Shilla dan Alvin pun kaget.

“ Eh enggak kog nek.” Ucap Alvin gugup. Shilla merapat duduknya dengan Ify.

“ Kalian bisa panggil saya nek inten.. dan apa benar ibumu bernama manda azizah?” tanya Nenek Inten pada Sivia.

“ Iya nek, kog nenek bisa tau?” tanya Sivia heran.

Belum sempat Nek Inten menjawab, Rio dan Gabriel membawa beberapa kayu unuk memperbaiki perahu.

“ Vin, bantuin kita.” Ajak Gabriel. Alvin menuju pinggir sungai.

“ Nek, sebenarnya nek Inten itu siapa? Kenapa nenek bisa tau bunda saya?” tanya Sivia penasaran.

Nenek Inten tersenyum ke arah Sivia.