Blogger Templates

Sabtu, 11 Juni 2011

Divo Kids *cerpen*

Divo Kids

Di sebuah kota kecil yang memang terletak di pinggiran kota, tinggallah 6 orang remaja yang sedang mencoba mencari jati diri mereka.

“Yee.... Gue lulus...” Ucap seorang anak berambut gondrong.

“Gue juga..” Sambung temannya yang bermata sipit.

“Kita semua lulus.. ye...”

“Gimana kalo kita rayain sambil main basket aja..” Ajak seorang teman mereka yang berkulit hitam manis.

“Setuju..”

Setelah merencanakannya, mereka berkumpul di sebuah lapangan basket tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama.

“Io, ambil nih bolanya..” Ucap Alvin sambil melempar bola basket kearah anak yang bernama Rio.

“Oke, kita bagi jadi dua tim yah, gue, Alvin dan Ray tim merah, Ozy, Lintar dan Deva tim biru, setuju..” Ucap Rio.

“Siipp..”

Akhirnya mereka pun mulai bermain. Gelak canda tawa pun terdengar disela-sela permainan mereka. Langit yang mendung pun tak lagi dihiraukan oleh keenam anak remaja ini. Mereka ingin menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang.

****
Mereka berenam memang telah bersahabat sejak masuk SMP. Karena persamaan sifat itulah yang membuat mereka menjadi akrab hingga kini. Mereka pun pernah berjanji untuk selalu bersama dan bercita-cita menjadi penyanyi yang terkenal. Dan untuk mencapai itu, mereka membuat grup bernama DIVO KIDS. Dan setelah kelulusan SMA ini, mereka akan lebih mendalami cita-cita mereka. Perlahan tapi pasti mereka sering bernyanyi diacara-acara kecil kadang pula di cafe-cafe.

Hidup Ini hidup yang penuh bahagia
Tetap semangat dan jangan putus asa
Hidup ini hidup yang sangat berarti
Terus berjuang tuk menggapai impian

Tepuk tangan yang meriah pun diberikan kepada Divo Kids yang saat itu sedang bernyanyi disebuah cafe. Antusias pun cukup baik kepada mereka.

@Backstage

“Huh..kog gak biasanya yah pengunjung yang datang cukup ramai..” ungkap Ozy.

“Bagus donk, ada peningkatan deh..” tanggap Rio.

“Semoga aja cita-cita kita bisa terwujud..” harap Lintar.

“Aminn..” jawab semuanya.

Mereka pun memutuskan untuk pulang. Namun saat diparkiran seseorang menyapa mereka.

“Divo Kids..”

“Iya ada apa?” tanya Alvin.

“Nama saya Duta, saya adalah manager dari sebuah label rekaman, sejak tadi saya perhatikan kalian memiliki sebuah potensi yang besar..” ungkap Duta.

“Maksud bapak?” tanya Deva.

“Gini, sebenarnya saya sedang mencari penyanyi ataupun grup gitu untuk saya terbitkan dan karena saya tertarik dengan kalian apa kalian mau untuk diterbitkan?” tanya Duta.

Semuanya diam dan saling pandang.

“Hey, apa kalian setuju?” tanya Duta sekali lagi.

“SETUJU..” Ucap mereka kompak. Duta pun tersenyum.

“Oke, besok saya tunggu kalian di studio saya, dan ini kartu nama saya.. jam 9 saya tunggu..” Ucap Duta yang pergi setelah memberikan kartu namanya.

“Hey, gue gak lagi mimpi kan?” tanya Ray.

“Ini beneran kan, ada yang nawari kita buat rekaman?” sambungnya lagi.

“Iya Ray... bapak tadi serius kog, Pak Duta itu manager dari label rekaman yang terkenal itu loh.. Angels Record..” jelas Lintar.

“Hwa..kita bakalan terkenal..” Sorak mereka histeris.

****

“Eh, gue udah rapi belom?” tanya Rio kepada teman-temannya.

“Udah, kalo gue gimana, keren gak?” tanya Alvin.

“ Keren sih, tapi masih kerenan gue deh..” Tanggap Ray.

“Ye..elo mah..” Alvin menoyor kepala Ray.

“Yah koko, jangan diacak dong, udah rapi tau..” ucap Ray membenahi rambutnya kembali.

“Buruan deh, kita jangan sampe telat.. Kita berangkat sekarang..” Koor Deva.

“Lets Go..”

Jam 8.30 mereka telah sampai di angels studio dan menunggu di lobby. Tak lama Duta pun menghampiri mereka.

“Bagus kalo kalian deadline, kita bicara diruangan saya aja..” ajak Duta.

Setelah dipersilahkan duduk, Duta pun menanyakan beberapa informasi sebelum mereka menekan kontrak dengan perusahaan lebel rekaman itu.

“Sebelumnya kalian pernah manggung dimana aja?” tanya Duta.

“Cafe-cafe dan juga kali lagi ada acara pensi sekolah pak..” jawab Rio.

Lalu seorang gadis muda masuk keruangan.

“Maaf pak, putri-putri anda ingin bertemu..” ucap Ucie.

“Suruh saja mereka masuk..” ucap Duta.

“Baik pak..”

Tak lama, putri-putri Duta masuk keruangan.

“Papa...” panggil mereka.

“Buset, banyak bener anaknya..” gumam Deva pelan.

“Sebentar yah..” ucap Duta pada Divo Kids.

“Lagi ada kerjaan pa?” tanya putri yang terlihat gayanya yang ngerock.

“Iya, tapi sebentar lagi selesai kog..” jawab Duta pada anaknya bungsunya Olivia.

Divo Kids kecuali Rio tak berkedip melihat kelima putri Duta yang menurut mereka cantik-cantik.

“Ya udah deh Pa, kita tunggu diluar aja yah..bye pa..” ucap Shilla putri kedua Duta yang mengkoor adik-adiknya keluar dari ruangan.

Duta tersenyum melihat personil Divo Kids yang terus melihat putri-putrinya hingga tak terlihat lagi.

“Ehm..” Duta membuyarkan lamunan mereka.

“Eh Iya pak..” ucap Ozy.

“Cantik-cantik banget yah pak putrinya..” ceplos Ray.

“Kalian suka?” goda Duta. Tanpa sadar Divo Kids mengangguk.

“Sebaiknya kalian tanda tangan kontrak dulu..” ucap Duta memberikan sebuah lembaran kertas dan pena.

Setelah itu, Duta mengajak untuk menuju ruang santai untuk menemui putri-putri mereka. Setelah perkenalan, Duta pun memberi waktu untuk Divo Kids bisa akrab dengan putri-putrinya.

“Guys, gue balik duluan yah, lagi ada urusan dengan nyokap nih.. permisi..” pamit Rio keluar dari ruanagn itu.

Saat diluar Rio segera menuju parkiran untuk pulang dengan motornya. Namun sebuah teriakan dari seorang gadis memaksanya untuk menolong gadis itu yang hampir ditabrak mobil.

“Loe gak papa kan?” tanya Rio setelah membawa gadis itu ke pinggir jalan. Gadis itu mengangguk lemah.

“Ya udah, lain kali hati-hati yah..” pesan Rio yang berjalan menjauhi gadis itu.

“Hey tunggu..” sapa gadis itu. Rio menoleh.

“Nama loe siapa?” tanya gadis itu.

“Rio..”

“Gue Ify..” Rio hanya tersenyum.

Gadis itu pun hanya tersenyum lalu pergi ketempat tujuannya.

****
Rio, Ozy, Alvin, Ray, Deva dan Lintar sedang kumpul kumpul di atas rumah pohon mereka. Masing-masing mereka sedang melamun.

“Pada kesurupan setan yah loe semua?” tanya Rio.

“Iya..” jawab mereka kompak.

“Heh?? Woi..woi sadar.. kalian kenapa sih?” tanya Rio yang bingung dengan sikap kelima sahabatnya itu.

“Kita lagi jatuh cinta Rio..” jawab Alvin.

“Sama siapa?” tanya Rio.

“Putrinya pak Duta..” jawab Lintar.

“Hah? Loe semua suka sama putrinya Pak Duta?” tanya Rio yang kaget.

“Iya, apalagi yang imut-imut itu.. Oh Acha...” Ozy membayangkan putri kelima Pak Duta.

“Shilla..” gumam Alvin membayangkan wajah Shilla.

“Gaya Rockmu gue suka Oliv..” ucap Ray pada putri kelima Duta.

“Manis banget deh kamu Nova..” igau Lintar pada putri keempat Duta.

“Oh Keke..” Deva pun ikut-ikutan membayangkan puri ketiga Duta.

“Gue juga ketemu sama seorang gadis..namanya Ify..cantik banget..” ucap Rio.

“Wah kayaknya kita semua bener-bener lagi kena virus cinta..” ungkap Ozy.

“HAHAHA..”

****
Beberapa hari kemudian, Divo Kids pun rekaman single pertama mereka yang berjudul ‘Jangan Putus Asa’. Dan dalam waktu singkat lagu mereka banyak disukai oleh masyarakat. Dengan aksi koregrafi mereka yang apik membuat gila para fans mereka yang disebut DKNatic. Walaupun sudah terkenal mereka berusaha tetap rendah hati.

“Makasih buat DKNatic yang udah selalu mensupport Divo Kids hingga sekarang... Bye all.. we love you..” Koor Deva yang membuat para fans mereka bersorak meriah. Mereka pun menuju backstage setelah melakukan jumpa fans.

****
Duta yang saat itu pulang dari studio melihat putri-putrinya sedang duduk dengan kegiatan mereka yang sama-sama sedang melamun.

“Papa pulang..” Ucap Duta. Tak ada respon dari putri-putrinya.

“Divo Kids..” ucap Duta. Seketika itu reaksi putrinya segera menuju pintu.

“Mana? Mana Divo Kids?” tanya Nova putri keempat Duta.

“Nah loh, kayaknya putri-putri papa lagi pada suka yah sama personil Divo Kids..?” goda Duta.

“Pa, mereka itu ganteng-ganteng yah..” ucap Keke.

“Iya, keren pula..” tambah Shilla.

“Nah loe, lagi pada ngomongin apa nih?” tanya Ify, putri pertama Duta.

“Ituloh kak, lagi ngomongin personilnya Divo Kids..” jawab Acha.

“Oh.. lagi apda kesemsem nih ceritanya?” tanya Ify lagi.

“Ye, bukannya loe juga Fy suka sama Rio?” ucap Shilla.

“Hehe.. iya sih..” jawab Ify malu-malu.

“Hm, pa.. mereka boleh kan deketin kita-kita?” tanya Olivia.

“Hush kamu tuh, masih kecil tau..” ucap Pak Duta.

“Ih Papa, Oliv kan udah kelas 1 SMA..” Rengeknya manja.

“Okelah, papa akan ijinin, tapi kalo mereka nyakitin kalian, bilang sama papa yah..” ucap Duta.

“Sip Pa..” ucap keenam putrinya.

***
Ray, Alvin, Deva, Ozy dan Lintar kini berada di depan rumah Duta, mereka berencana untuk mengajak jalan putri-putrinya Duta.

“Vin, loe ketok pintu gih..” suruh Lintar.

“Gue takiut nih..” ucap Alvin.

CKLEK.. Sebelum mereka mengetuk pintu terlebih dahulu terbuka.

“Eh kalian, ada apa kesini?” tanya Duta.

“Em.. kita..kita mau..” Alvin terlihat kikuk.

“Kita boleh ngajak jalan putri bapak gak?” tanya Ozy. Duta tersenyum lalu membuka pintu sedikit lebar dan menyuruh mereka masuk.

“Sebentar lagi mereka turun..” ucap Duta.

Tak lama keenam putri Duta turun dan menemui pasangan mereka masing-masing, terkecuali Ify yang tidak melihat tanda kehadiran Rio.

“Loh, bapak punya enam putri yah?” tanya Ray yang baru saja melihat Ify.

“Iya, ini Ify, putri sulung saya,.” Jelas Duta.

“Yah, dia gak dateng..” ucap Ify lemas.

“Ify??” gumam Alvin.

“Eh, Ify yang dimaksud Rio itu anak pak Duta juga bukan yah?” tanya Ozy ke Ray.

“Gue gak tau Zy..” jawab Ray.

“Loh Fy, kenapa kamu gak juga jalan?” tanya Pak Duta melihat Ify hanya terduduk manis di tangga rumahnya.

“Rionya gak ada Pa..” jawab Ify lesu.

“Rio gak ngehubungi kamu?” tanya Duta.

“Ify waktu itu cuma sekali ketemunya dan Ify tau kalo Rio itu personil Divo Kids waktu liat poster mereka di kamar, setelah itu Ify gak pernah ketemu lagi..” cerita Ify.

“Ya sudah, nanti papa cari waktu untuk kamu ketemuan sama Rio yah..” ucap Duta menghibur putrinya.

****
“Huh..pada gak asik banget mereka, masa gue di tinggal sendirian sih, mentang-mentang udah punya gebetan baru, gue dilupain.. huh.. coba gue ketemu sama Ify lagi, pasti udah gue jadiin pacar tuh..” Rio mendribble bola sendiri.

Lalu hapenya bergetar dan Rio membaca sebuah sms masuk. Lalu segera ia pergi. Rio meluncur ke sebuah toko musik yang juga milik perusahaan angel record. Saat masuk ke toko itu, Rio langsung mencari keberadaan Duta yang telah menyuruhnya kemari. Namun yang Rio temui adalah Ify yang sedang asik duduk sambil mendengarkan Ipod.

“Itu Ify bukan yah?” tanya Rio.

“Samperin ah..” ucap Rio.

“Hey..” sapa Rio. Ify pun tersenyum dan membalas sapaan Rio.

“Rio kan?” Rio mengangguk.

“Masih inget gue?” tanya Ify.

“Iya dong, ngapain disini?” tanya Rio.

“Main-main aja, ini kan tempat bokap gue..” jawab Ify.

“Bokap? Pak Duta maksud loe?” tebak Rio. Ify mengangguk.

“Iya Io, Ify putri saya, dia putri sulung saya..” jawab Pak Duta menghampiri Rio dan Ify.

“Oh..”

“Ya sudah, lebih baik kalian bersenang-senang saja, saya masih banyak urusan..” jawab Duta.

Alhasil Rio dan Ify pun menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan dan menjadikan kesempatan untuk mereka saling mengenal lebih jauh.

****
Seminggu kemudian, adalah hari ulang tahun Angels Record, dan semua artis yang berada dibawah label musik itu mengisi acara pada malam itu tak terkecuali Divo Kids. Undangan dan penonton pun sudah ramai memadati sebuah tempat yang khusus. Dan tiba waktunya acara penutup Divo Kids pun menutup dengan aksi panggung mereka.

Setelah selesai, Divo Kids melakukan rencana mereka. Di barisan bangku paling depan, seluruh putri Duta duduk manis.Divo Kids berencana menyatakan cinta mereka pada malam itu juga secara bersamaan.

“Mungkin inilah waktu yang tepat untuk kami semua menyatakan sesuatu..” ucap Alvin.

“Cinta itu sedang menghinggapi hati kami masing-masing..” sambung Ray.

“Kami minta untuk.. Ify..” ucap Rio.

“Shilla..” Panggil Alvin.

“Keke..” panggil Deva.

“Nova..” panggil Lintar.

“Acha..” panggil Ozy.

“Dan Olivia..” ucap Ray.

“Kami mohon kalian naik ke atas panggung..” ucap mereka serempak. Dari bangku penonton juga, Duta tlah mengetahui maksud dari keenam remaja itu. Dan hanya mampu tersenyum.

“Oliv...ini buat kamu yang suka main drum bersama aku.., kita punya masing-masing satu.. apa kamu mau jadi pacar aku?” Ray memberikan satu stik drum ke Olivia.

“Iya kak, Oliv mau..” jawabnya manis. Ray pun tersenyum.

“Cha.. aku Cuma mau kasih kamu gantungan mini ini.. ini sebagai lambang tanda aku suka sama kamu, mau gak jadi pacar aku?” Ozy memberikan sebuah gantungan yang berbentuk cokelat yang berukuran mini pada Acha.

“Mau banget kak..” jawab Acha

“Nov, ini untuk kamu.. aku sayang sama kamu.. apa kamu juga sayang sama aku dan mau jadi pacar aku?” Lintar memberikan sebuah kotak musik. Nova pun mengangguk dan tersenyum.

“Keke, aku mau kasih kamu ini.. biar kamu tambah manis, would you be my girl?” Deva memberikan sebuah tas rajutan kecil.

“Aku mau kak..” jawab Keke.

“Shilla.. aku kasih bunga lili yang cantik ini untuk kamu.. Jadi pacar aku mau?” Ucap Alvin memberikan sebuket bunga Lili.

“Mau banget Vin...” jawab Shilla

“Fy, karena kamu suka sama boneka, jadi aku kasih kamu boneka stitch ini buat kamu yang cantik.. dan apa kamu mau jadi pengisi hari hari aku, dan selalu memberi warna dalam hidup aku?” Ucap Rio.

“Dengan senang hati Mario..” jawab Ify.

Suara tepuk tangan dan sorakan riuh pun diberikan kepada keenam pasangan yang resmi menjadi sepasang kekasih. Hingga seterusnya, Divo Kids tetap menjadi grup paling digilai oleh kaum hawa dan karir mereka terus menanjak hingga puncak dan perjalanan cinta mereka pun diwarnai dengan kebahagiaan selalu.



 The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar